
seseorang yang tidak memiliki keluarga dekat untuk diandalkan. (Freepik/krakenimages.com)
JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh atau hidup dengan keluarga yang hangat, suportif, dan bisa diandalkan. Dalam psikologi, ketiadaan dukungan keluarga dekat—baik secara emosional maupun praktis—sering kali membentuk pola perilaku tertentu. Menariknya, banyak dari perilaku ini tidak disadari oleh pelakunya sendiri, karena telah menjadi mekanisme bertahan hidup sejak lama.
Artikel ini tidak bertujuan menghakimi, melainkan membantu memahami. Sebab di balik kemandirian ekstrem, sikap tertutup, atau kebiasaan “selalu kuat”, sering tersembunyi cerita tentang seseorang yang belajar menjalani hidup tanpa sandaran keluarga.
Dilansir dari Geediting pada Minggu, terdapat sembilan perilaku yang menurut psikologi kerap muncul pada individu yang tidak memiliki keluarga dekat untuk diandalkan.
1. Terlalu Mandiri dan Sulit Meminta Bantuan
Orang-orang ini sering terlihat sangat mandiri, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya wajar dibantu orang lain. Dalam psikologi, ini disebut hyper-independence.
Bukan karena mereka tidak percaya pada orang lain, melainkan karena pengalaman hidup mengajarkan satu hal: jika ingin selamat, harus mengandalkan diri sendiri. Meminta bantuan terasa tidak alami, bahkan memicu rasa bersalah atau takut mengecewakan.
2. Sangat Hati-Hati dalam Membangun Kedekatan Emosional
Mereka cenderung selektif, lambat membuka diri, dan menjaga jarak emosional. Bukan karena dingin, tetapi karena kedekatan emosional di masa lalu sering diiringi kekecewaan.
Dalam teori attachment, pola ini sering berkaitan dengan avoidant attachment, di mana individu belajar bahwa bergantung pada figur dekat tidak selalu aman.
3. Jarang Membicarakan Keluarga atau Mengalihkan Topik
Saat obrolan menyentuh soal orang tua, saudara, atau tradisi keluarga, mereka cenderung singkat menjawab atau segera mengalihkan topik.
Ini bukan sekadar privasi. Bagi sebagian orang, keluarga bukan sumber kenyamanan, melainkan sumber luka, konflik, atau kekosongan yang sulit dijelaskan tanpa membuka emosi mendalam.
4. Terlihat Kuat, tapi Sulit Mengekspresikan Kesedihan
Mereka sering dipersepsikan sebagai “orang kuat”, “tidak cengeng”, atau “selalu bisa mengatasi masalah”. Namun di balik itu, ada kecenderungan memendam emosi negatif sendirian.
Psikologi melihat ini sebagai bentuk emotional self-reliance—kemampuan mengatur emosi sendiri karena tidak terbiasa ditenangkan atau divalidasi oleh keluarga.
5. Lebih Mengandalkan Teman atau Pasangan sebagai “Keluarga Pengganti”
Ketika keluarga tidak hadir, manusia secara alami mencari sistem pendukung lain. Banyak dari mereka membangun ikatan sangat kuat dengan sahabat, pasangan, atau bahkan komunitas tertentu.
Ikatan ini sering kali lebih dalam dibanding relasi biasa, karena di sanalah mereka menemukan rasa aman yang tidak didapatkan di rumah sendiri.
6. Selalu Bersiap Menghadapi Skenario Terburuk
Individu tanpa dukungan keluarga cenderung berpikir jauh ke depan: menyiapkan dana darurat sendiri, merencanakan hidup secara detail, dan jarang mengandalkan “jika terjadi apa-apa, keluarga pasti membantu”.
Ini bukan pesimisme, melainkan strategi bertahan. Mereka tahu, saat jatuh, tidak ada jaringan pengaman keluarga yang siap menolong.
7. Sulit Mempercayai Janji dan Komitmen Jangka Panjang
Janji manis sering dipandang dengan skeptis. Dalam alam bawah sadar, mereka telah belajar bahwa orang terdekat pun bisa tidak hadir saat dibutuhkan.
Akibatnya, mereka lebih percaya pada tindakan nyata dibanding kata-kata, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar yakin pada komitmen seseorang.
8. Merasa Tidak Enak Menjadi “Beban”
Banyak dari mereka menahan diri untuk tidak merepotkan orang lain, bahkan dalam kondisi sangat tertekan. Ada ketakutan mendalam akan menjadi beban—perasaan yang sering terbentuk ketika dukungan emosional di masa kecil minim.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022