
MENGGUGAH SELERA: Sajian Nasi Madura menggunakan nasi jagung dengan lauk paru, telur, bihun, dan sambal. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
Tak kenyang kalau belum makan nasi. Mungkin itulah pola pikir sebagian besar penduduk tanah air. Padahal, banyak alternatif bahan makanan pokok selain nasi dengan kandungan gizi yang bersaing.
---
Nasi menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia sejak lama. Bahkan, negeri kita bak ditakdirkan makan nasi. Food historian Fadly Rahman menyatakan, berdasar penelitian arkeologi dan filologi, konsumsi nasi dimulai sejak zaman Jawa Kuno. ”Di peninggalan abad ke-10 SM, penduduk kita sudah mulai budi daya dan konsumsi nasi. Untuk jenisnya, ada beras putih, merah, hitam, dan pulut atau ketan,” paparnya.
Sebelum budi daya nasi, penduduk tanah air mengonsumsi talas dan sagu. ”Meski sekarang identik dengan Indonesia Timur, persebaran konsumsinya dulu merata,” kata Fadly.
Pada abad ke-16, ubi mulai diperkenalkan pendatang dari Portugis dan Spanyol. Disusul singkong atau ketela pohon pada abad ke-19. Namun, budi dayanya tak semasif padi.
Penulis Jejak Rasa Nusantara itu menuturkan, beras mudah diterima lantaran kondisi tanah dan iklim menunjang. Terutama di Jawa dan Sumatera. Berbeda halnya dengan ubi, singkong, sagu, maupun talas yang lebih ”bandel”. Tahan di berbagai iklim dan kondisi tanah. ”Akhirnya, bahan pangan itu dipandang sebatas bahan substitusi saat paceklik atau sebatas snack,” ujar Fadly.
Dia mengungkapkan, untuk mengerem ketergantungan pada beras, pada masa awal kemerdekaan pemerintah telah mencanangkan program diversifikasi pangan lewat prinsip empat sehat lima sempurna. ”Kita diperkenalkan sumber karbohidrat alternatif seperti jagung, ubi, dan singkong. Secara kandungan dan nutrisi, setara dengan nasi,” jelas Fadly. Namun, upaya itu terhenti pada 1960-an karena pemerintah memprioritaskan beras.
Di sisi lain, dr Hidayat Wiriantono SpGK DFN menilai, nasi diterima sebagai bahan pangan lantaran kandungan gizinya komplet. Selain karbohidrat, ada pula protein, serat, vitamin, dan mineral. ”Menurut saya, salah kalau nasi dianggap jahat. Konsumsi nasi menjadi masalah ketika porsinya tidak terkontrol,” tegasnya. Salah satu dampaknya, diabetes.
Spesialis gizi klinik Siloam Hospitals Surabaya itu menegaskan, nasi punya indeks glikemik (GI) tinggi antara 72–75. Bergantung jenis beras. ”GI menunjukkan seberapa cepat makanan diubah menjadi gula. Makin tinggi angka GI, makanan makin cepat menaikkan kadar gula darah,” ungkapnya.
Bila nasi dikonsumsi berlebihan, pankreas berpotensi overworked. Dalam jangka panjang, insulin tak bisa diproduksi secara normal.
Untuk mencegah lonjakan gula darah, penderita diabetes wajib mengontrol porsi nasi. ”Biasanya disarankan makan beras merah. Sebab, indeks GI-nya mencapai 55 dan terbilang rendah,” tutur Hidayat.
Dia menilai, apa pun pilihan sumber karbohidratnya bukan masalah. Yang terpenting, porsinya pas serta diimbangi konsumsi lauk, sayur, dan buah. ”Secara kandungan gizi, nasi tidak lebih superior daripada beras merah, jagung, atau singkong. Begitu pula sebaliknya,” tandasnya.
---
KANDUNGAN GIZI PER 100 G
Nasi putih

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
