Ilustrasi nasi (Freepik)
JawaPos.com - Banyak orang tua bangga melihat anaknya gemuk karena dianggap sehat dan makmur. Di sisi lain, nasi sering kali menjadi "kambing hitam" utama penyebab perut buncit. Namun, benarkah anggapan tersebut?
Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Ali Khomsan menegaskan, bahwa fenomena ini bukanlah sekadar mitos, melainkan bentuk ketidakpahaman masyarakat terhadap konsep gizi yang benar.
Berikut adalah fakta di balik mitos gizi yang sering salah kaprah di masyarakat.
1. Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat
Dahulu, pipi anak yang tembam sering dianggap sebagai simbol kesejahteraan. Faktanya, kegemukan justru menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis di masa depan.
"Kalau zaman dulu orang mengatakan gemuk itu lambang kemakmuran, lambang kesejahteraan, tetapi sekarang kita menyadari bahwa gemuk itu juga merupakan lambang bagaimana kita menjadi lebih mudah terekspos oleh penyakit-penyakit yang kita sebut sebagai penyakit tidak menular ya," ujarnya kepada JawaPos.com.
Menurutnya, standar anak sehat bukan dilihat dari gemuknya, melainkan kesesuaian berat dan tinggi badan dengan standar medis yang berlaku. Ali mengungkapkan, jika pada usia muda sudah terkena hipertensi dan diabetes, dapat membuka peluang terjangkit penyakit lainnya yang lebih parah di usia tua.
"Hipertensi, diabetes, penyakit gula, itu adalah salah satunya disebabkan oleh faktor risiko yang penting yaitu namanya kegemukan," terangnya.
2. Anak Berbadan Kecil Belum Tentu Stunting
Sering kali orang tua panik melihat anaknya terlihat lebih kecil dari teman sebayanya. Ali menjelaskan bahwa stunting memiliki parameter yang sangat terukur, tidak bisa hanya dikira-kira secara kasat mata.
"Stunting itu sudah ada ukurannya dan di setiap posyandu pasti sudah tahu berapa kalau anak tingginya, misalnya anak umur 5 tahun tingginya hanya 90 cm, maka itu stunting, karena stunting itu ukurannya adalah tinggi badan. Ya jadi standarnya sudah jelas, ada di Puskesmas, ada di kader posyandu," jelasnya.
Pemerintah sendiri terus berupaya mengatasi stunting melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini sasarannya diperluas mulai dari balita hingga ibu hamil.
3. Makan Malam vs Makan Sore
Banyak yang percaya makan malam adalah penyebab utama kegemukan. Ali meluruskan, masalah sebenarnya terletak pada jeda waktu antara makan dan tidur. Idealnya, tubuh butuh waktu 4-5 jam untuk mencerna makanan sebelum beristirahat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
