Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 September 2026 | 08.00 WIB

Nikmati Jenang Upeh & Bebek Bacem Pasar Ngino Sleman, Kuliner Langka di Tengah Bangunan Cagar Budaya

TELATEN : Mbah Tukiyah, tampak sedang melayani pembeli Jenang Upeh di Pasar Tradisional Ngino, Margoagung, Seyegan, Sleman. (Istimewa). - Image

TELATEN : Mbah Tukiyah, tampak sedang melayani pembeli Jenang Upeh di Pasar Tradisional Ngino, Margoagung, Seyegan, Sleman. (Istimewa).

JawaPos.com – Riuh kehangatan Pasar Tradisional Ngino di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, seolah tak pernah memudar.

Berdiri di lahan seluas 3.890 meter persegi di tengah permukiman warga Padukuhan Ngino, pasar harian ini menyimpan pesona unik dengan dikelilingi akses jalan di setiap sisinya.

Keistimewaan Pasar Ngino tak lepas dari deretan kuliner langka nan legendaris yang memanjakan lidah. Salah satunya Jenang Upeh, kudapan langka berbahan adonan tepung beras, santan, dan garam bertekstur gurih-lembut yang dicetak menggunakan pelepah daun pinang (upeh).

Disajikan bersama irisan tempe atau tahu bacem, hidangan ini menjadi menu sarapan favorit pengunjung. Salah satu pelestarinya adalah Mbah Tukiyah, pedagang turun-temurun yang setia menjajakan Jenang Upeh sejak era 90-an. Ada juga Jenang Upehnya Yu Tini. 

IDENTITAS KULINER SEYEGAN : Sajian Bebek Bacem khas Seyegan dengan bumbu rempah tradisional yang meresap sempurna siap memanjakan lidah pembeli di Pasar Ngino, Seyegan, Sleman. (Istimewa).

Tak kalah memikat, olahan Bebek Bacem khas Seyegan turut menjadi identitas kuliner pasar ini. Diolah dengan rempah bacem tradisional hingga meresap ke serat daging yang empuk, kelezatannya terus dipertahankan oleh Suratinah yang telah melayani pembeli sejak 2006. Selain itu, Kiryani juga menjajakan bebeknya di waktu yang agak siang. 

"Kuliner tradisional seperti Jenang Upeh dan Bebek Bacem ini jadi daya tarik utama yang paling dicari pengunjung," ujar Ketua Paguyuban Pedagang "Bergas" Pasar Ngino, Antonius Supriyono Kamis (24/9/2026).

Saksi Bisu Kolonial yang Masih Bertahan
Selain kelezatan kulinernya, melangkah ke dalam Pasar Ngino layaknya menembus lorong waktu. Dipugar besar-besaran pada era Sultan Hamengkubuwono VIII sekitar tahun 1931, pasar ini ditopang oleh tiang-tiang besi kokoh rakitan perakitan logam Belanda, N.V. Machine Fabriek Braat Rotterdam. Ukiran nama pabrik yang masih tercetak jelas di tiang besi los menjadi bukti otentik arsitektur masa lalu.

Nilai historis tersebut mengantarkan Los Pasar Lama Ngino dilindungi UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Keberadaannya menjadikan pasar ini sebagai satu-satunya bangunan pasar berstatus Cagar Budaya (BCB) di Sleman yang masih lestari dan aktif difungsikan hingga kini.

Sisi historis ini menampung sekitar 541 pedagang aktif yang tersebar di 19 los, kios (bangau), hingga pelataran. Meski berada di titik strategis permukiman, pengelola pasar masih dihadapkan pada tantangan keterbatasan lahan parkir kendaraan bagi pengunjung.

MENEMBUS LORONG WAKTU : Suasana akivitas di Pasar Ngino, Seyegan, Sleman. Bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang besi kokoh peninggalan era kolonial Belanda bertuliskan N.V. Machine Fabriek Braat Rotterdam. (Istimewa).

Meski demikian, denyut perdagangan tetap mencapai puncaknya pada hari pasaran Jawa, yakni Wage dan Legi.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore