
Ilustrasi internet fix broadband. (TechiT Services)
JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai mahalnya biaya internet dan rendahnya penetrasi fixed broadband masih menjadi hambatan dalam memperkuat ekosistem kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, pengembangan AI tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan jaringan telekomunikasi. Sebab, konektivitas menjadi kebutuhan utama dalam proses pengiriman, pertukaran, hingga pengumpulan data.
“Tidak ada pertukaran data tanpa jaringan telekomunikasi. Tidak ada transfer data yang terjadi. Tidak ada data yang bisa dikumpulkan oleh cloud kalau jaringan telekomunikasi tidak bekerja dengan baik,” ujar Wamen Nezar dalam Lintas Teknologi Solutions Day 2026 di Jakarta Timur, Sabtu (31/10).
Menurutnya, jaringan telekomunikasi memiliki posisi penting dalam rantai pasok AI, sama seperti listrik, energi, dan air. Karena itu, pemerataan akses internet perlu dipercepat agar pemanfaatan teknologi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Saat ini, cakupan jaringan 4G sudah mencapai hampir 99 persen wilayah permukiman. Sementara penetrasi internet nasional mendekati 81 persen. Namun, penggunaan fixed broadband atau internet kabel untuk rumah tangga baru berada di kisaran 22 persen.
Salah satu persoalannya adalah biaya berlangganan yang masih relatif tinggi. Rata-rata tarif fixed broadband di Indonesia mencapai Rp300 ribu per bulan. Angka tersebut lebih mahal dibandingkan India yang berkisar USD 5 hingga USD 10.
Pemerintah pun menargetkan peningkatan kecepatan internet hingga 100 Mbps dengan biaya yang lebih terjangkau untuk memperluas penggunaan broadband di rumah tangga.
“Targetnya adalah 100 Mbps dengan biaya internet yang lebih murah sehingga penetrasi ke rumah tangga semakin masif. Dengan demikian, penyebaran teknologi bisa berlangsung lebih cepat,” tutur Wamen Nezar.
Selain memperluas akses internet, pemerintah juga mendorong pembangunan jaringan 5G. Teknologi tersebut dinilai lebih sesuai untuk mendukung kebutuhan AI karena memiliki latensi rendah yang memungkinkan proses komputasi dan pengambilan keputusan berlangsung lebih cepat.
“Kalau kita berbicara tentang AI, teknologi yang paling tepat adalah 5G karena memiliki latensi lebih rendah untuk membantu komputasi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat,” ungkap Wamen Nezar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022