
Agung Asmara
Oleh: Dr. Agung Asmara, S.I.K., M.I.K. menyelesaikan disertasi doktoral di Program Doktor Ilmu Kepolisian STIK-PTIK dengan judul "Crab Mentality: Eksistensi, Mekanisme Kerja dan Dampaknya pada Polwan di Indonesia."
PADA akhir Oktober 2026, seorang perwira menengah bernama AKBP Dr. Netty Rosdiana Siagian menulis pesan perpisahan di Instagram: "Saya tidak takut melepaskan jabatan, tetapi saya takut mengkhianati kebenaran yang saya yakini." Ia mundur dari Polri. Diam-diam, bermartabat, tanpa gembar-gembor.
Empat hari kemudian, gempa sesungguhnya terjadi. Bareskrim Polri mengumumkan penetapan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan dua jenderal lainnya sebagai tersangka dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto. Seorang Polwan memilih keluar karena tak mau kehilangan prinsip. Seorang mantan Kapolri ditangkap karena diduga kehilangan batas kekuasaan.
Dua peristiwa ini, yang terjadi nyaris bersamaan, bukan kebetulan. Keduanya adalah dua sisi dari keping uang yang sama: potret sebuah institusi yang sedang mengalami kerusakan dari dalam — dari puncak hingga fondasi.
Dan ada sebuah riset doktoral yang, tanpa direncanakan, telah membaca semua ini sebelum terjadi.
Di sebuah ruang sidang akademik di STIK-PTIK, sebuah disertasi berjudul Crab Mentality: Eksistensi, Mekanisme Kerja dan Dampaknya pada Polwan di Indonesia sedang dipersiapkan untuk dipertahankan. Penulisnya meneliti fenomena yang selama ini dianggap tabu: mengapa sesama Polwan bisa saling menjatuhkan?
Crab mentality — mental kepiting — merujuk pada perilaku kepiting dalam ember: ketika satu ekor berusaha memanjat keluar, kepiting lain akan menariknya kembali ke bawah. Dalam konteks organisasi, ini berarti pola melemahkan rekan sendiri ketika keberhasilan orang lain dipersepsikan sebagai ancaman.
Penelitian ini bukan pekerjaan ringan. Melibatkan 958 Polwan dari berbagai satuan kerja, dilengkapi diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam, disertasi ini menemukan sesuatu yang mengejutkan: mental kepiting bukan soal sifat bawaan perempuan atau kelemahan moral individu. Ia adalah produk dari sistem — dari struktur organisasi yang timpang, budaya kompetisi yang keras, dan kepemimpinan yang terputus dari realitas anak buahnya.
Temuan terbesarnya? Kekerasan lateral — agresi halus antar-sesama seperti gosip, delegitimasi prestasi, pengucilan — adalah mesin utama yang menggerakkan mental kepiting. Dan budaya "siapa yang paling jantan" (masculinity contest culture) yang dominan di tubuh Polri menjadi bahan bakarnya.
AKBP Netty bukan siapa-siapa dalam terminologi kekuasaan. Ia perwira menengah, pernah menjadi Kapolsek Sunda Kelapa dan Menteng, terakhir menjabat Kabagrenmin di Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Secara akademik, ia justru istimewa — doktor ilmu hukum dengan predikat cumlaude.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022