Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Oktober 2026 | 23.50 WIB

AI Bikin Kerja Jurnalis Lebih Cepat, tapi Ada Risiko Kehilangan Kemampuan Verifikasi

Workshop Wartawan United Tractors (UT) Group 2026 yang mengusung tema "Human Journalism in the Age of AI: Strengthening Trust and Media Credibility” di Jakarta, Rabu (14/10). (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Workshop Wartawan United Tractors (UT) Group 2026 yang mengusung tema "Human Journalism in the Age of AI: Strengthening Trust and Media Credibility” di Jakarta, Rabu (14/10). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membantu jurnalis mempercepat proses produksi berita. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan verifikasi agar kecepatan publikasi tidak mengorbankan akurasi informasi.

Dalam Workshop Wartawan United Tractors (UT) Group 2026 yang mengusung tema "Human Journalism in the Age of AI: Strengthening Trust and Media Credibility” di Jakarta, Rabu (14/10).

Dalam sebuah diskusi mengenai industri media, Djaka Susila pemimpin redaksi media di Indonesia, mengingatkan bahwa kemudahan teknologi berpotensi membuat jurnalis terlalu bergantung pada AI. Padahal, kemampuan menggali informasi secara langsung dari narasumber dan menghasilkan laporan orisinal tetap menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik.

Menurutnya, jurnalis tidak cukup hanya mengandalkan kemudahan memperoleh informasi. Di tengah tuntutan kecepatan, proses pemeriksaan fakta tetap harus dilakukan sebelum sebuah informasi dipublikasikan.

Ia menilai, kebiasaan bertemu narasumber secara langsung juga perlu dipertahankan. Interaksi tersebut menjadi salah satu cara bagi jurnalis untuk memperoleh informasi eksklusif sekaligus memperdalam pemahaman terhadap isu yang sedang diliput.

“Kecepatan penting, tapi menurut saya bahwa seorang jurnalis yang harus ketemu langsung narasumber, memproduksi produk-produk original, eksklusif, itu harus tetap dikontrolkan,” ujarnya dalam diskusi tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan AI dapat membuat jurnalis kehilangan sebagian kemampuan yang selama ini dibangun melalui pengalaman peliputan. Pengalaman bertemu narasumber dan memperluas pengetahuan menjadi bekal untuk mengolah informasi secara kritis.

Karena itu, penggunaan AI seharusnya tidak menghilangkan peran jurnalis dalam mencari, memeriksa, dan mengembangkan informasi. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan, bukan menggantikan proses jurnalistik yang membutuhkan penilaian manusia.

Pandangan serupa disampaikan Agus Sudibyo, Media Communication Expert, yang menilai penggunaan AI di industri media sudah sulit dihindari. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada boleh atau tidaknya jurnalis menggunakan teknologi tersebut, melainkan bagaimana AI dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore