Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Agustus 2026 | 18.00 WIB

Wamenkomdigi Nezar Sebut Algoritma Media Sosial Turut Membentuk Cara Pandang Publik, Literasi Digital Dinilai Penting

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. (Didik Setiawan/ Pewarta Foto Indonesia) - Image

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. (Didik Setiawan/ Pewarta Foto Indonesia)

JawaPos.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menekankan bahwa kemampuan literasi digital menjadi bekal penting bagi masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital. Menurutnya, tingginya penggunaan media sosial membuat publik perlu semakin cermat dalam membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.

Seiring meningkatnya penetrasi internet yang telah mencapai 80,6 persen dari sekitar 287 juta penduduk Indonesia serta jangkauan layanan telekomunikasi di 97 persen wilayah berpenghuni, aktivitas masyarakat di ruang digital terus berkembang. Internet kini tidak hanya menjadi sarana mencari informasi, tetapi juga tempat masyarakat memproduksi dan menyebarkan berbagai konten.

Dalam kondisi tersebut, algoritma media sosial dinilai memiliki pengaruh besar terhadap jenis informasi yang diterima pengguna. Dampaknya, persepsi publik juga dapat terbentuk oleh konten yang terus muncul sesuai preferensi masing-masing pengguna.

"Kalau kita melihat lanskap komunikasi kita pada hari ini, komunikasi sangat ditentukan oleh platform media sosial. Dari total 287 juta penduduk Indonesia, ada sekitar hampir 240 juta yang saat ini menikmati internet," ujar Wamen Nezar Patria dalam Podcast Unpacking Indonesia di Jakarta Selatan, dikutip Sabtu (1/8).

Nezar menjelaskan bahwa besarnya jumlah pengguna internet menjadikan media sosial sebagai ruang interaksi yang sangat dinamis. Di dalamnya, setiap individu dapat berperan sebagai pembuat sekaligus penyebar informasi, sehingga kualitas informasi yang beredar menjadi sangat beragam.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan informasi yang didorong oleh emosi atau sentimen sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang berbasis fakta. Fenomena itu diperkuat oleh sistem algoritma media sosial yang terus mempelajari kebiasaan setiap pengguna.

"Mereka memproduksi sekaligus mengonsumsi informasi sehingga banyak informasi yang dihasilkan kadang-kadang tidak berbasis pada fakta. Bisa jadi digerakkan oleh sentimen. Kenapa informasi yang berbasis sentimen itu bisa sampai kepada kita? Karena ada algoritma di media sosial," jelas Wamen Nezar.

Ia menerangkan bahwa algoritma membaca perilaku pengguna melalui berbagai aktivitas, mulai dari tombol suka hingga lamanya seseorang menyaksikan sebuah konten. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk merekomendasikan konten serupa.

Menurut Nezar, mekanisme itu memunculkan fenomena filter bubble dan echo chamber, yakni situasi ketika seseorang lebih sering terpapar pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sendiri sehingga ruang untuk memperoleh perspektif berbeda menjadi semakin sempit.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore