Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Maret 2026, 20.16 WIB

Di Tengah Ketegangan AS-Tiongkok, Tim Cook Tegaskan Ketergantungan Apple pada Rantai Pasok Tiongkok

Tim Cook menyapa pelanggan dan sejumlah selebritas saat berkunjung ke Apple Store di Chengdu, Tiongkok (SCMP) - Image

Tim Cook menyapa pelanggan dan sejumlah selebritas saat berkunjung ke Apple Store di Chengdu, Tiongkok (SCMP)

JawaPos.com - Kunjungan CEO Tim Cook ke Tiongkok menegaskan satu fakta strategis dalam lanskap teknologi global: diversifikasi rantai pasok belum mampu menggantikan peran sentral negara tersebut. Di tengah ketegangan dagang dan persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, langkah Apple Inc. justru menunjukkan kesinambungan, bukan pergeseran arah.

Kehadiran Cook di Apple Store Chengdu, Provinsi Sichuan, menjadi bagian dari perayaan 50 tahun Apple. Dia berinteraksi dengan pelanggan dan figur publik, sebuah langkah yang menegaskan upaya Apple mempertahankan relevansi di pasar Tiongkok, yang tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan perusahaan.

Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (19/3/2026), kunjungan tersebut berlangsung bersamaan dengan aktivitas intensif di lini operasional. Chief operating officer Apple, Sabih Khan, juga tengah mengunjungi pemasok utama seperti Foxconn dan Sunwoda, menegaskan fokus berkelanjutan perusahaan pada ekosistem manufaktur Tiongkok.

Konsistensi ini bukan tanpa konteks. Pada Oktober lalu, Cook bertemu pejabat pemerintah di Beijing dan kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan investasi di Tiongkok, meskipun tekanan geopolitik meningkat. Sikap tersebut mencerminkan kalkulasi bisnis yang menempatkan stabilitas rantai pasok di atas dinamika politik jangka pendek.

Dari sisi kinerja, ketergantungan tersebut tercermin jelas. Apple mencatat pendapatan rekor di wilayah Greater China yang mencakup Tiongkok daratan, Hong Kong, dan Taiwan sebesar USD 25,5 miliar atau sekitar Rp 433,5 triliun (kurs Rp 17.000 per dolar AS) pada kuartal yang berakhir Desember. Sepanjang 2025, kawasan ini menyumbang USD 71,4 miliar atau sekitar Rp 1,213 triliun, setara 16 persen dari total penjualan global, menegaskan peran kawasan ini sebagai salah satu pilar utama bisnis Apple.

Namun, tekanan regulator mulai memaksa penyesuaian model bisnis. Apple memangkas komisi App Store di Tiongkok dari 30 persen menjadi 25 persen, serta menurunkan tarif bagi pengembang kecil menjadi 12 persen. Kebijakan ini muncul setelah keluhan panjang dari pengembang dan dorongan otoritas setempat untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih kompetitif.

Di tingkat operasional, integrasi Apple dengan rantai pasok Tiongkok semakin dalam. Laboratorium riset terapan Apple di Shenzhen bekerja sama dengan hampir 200 pemasok di sekitarnya. Wakil Presiden Apple untuk Greater China, Ge Yue, menjelaskan bahwa kedekatan ini memungkinkan penyesuaian proses produksi secara langsung guna meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.

Selain itu, tekanan untuk mendiversifikasi rantai pasok memang terus menguat, tetapi realitas industri menunjukkan hambatan struktural. Seorang analis industri yang dikutip Reuters menegaskan, "Ketergantungan Apple pada Tiongkok bukan sekadar soal biaya, tetapi juga kecepatan, skala, dan presisi manufaktur yang sulit ditandingi oleh negara lain."

Fenomena ini tidak hanya dialami Apple. Perusahaan teknologi besar lain seperti Alphabet Inc., serta bisnis milik Elon Musk—Tesla dan SpaceX—juga dilaporkan mengunjungi pemasok di Tiongkok tahun ini, terutama untuk komponen energi dan teknologi pendingin.

Kunjungan Cook pada akhirnya bukan sekadar agenda korporasi rutin. Di tengah rivalitas global yang semakin tajam, langkah ini menegaskan bahwa penguasaan rantai pasok tetap menjadi fondasi utama kekuatan industri teknologi dan hingga kini, Tiongkok masih menjadi pusat yang sulit tergantikan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore