Ilustrasi konstelasi 12 satelit Adaspace Technology yang diluncurkan pada 14 Mei 2025, masing-masing dilengkapi sistem komputasi bertenaga AI untuk mendukung operasi Qwen-3 di orbit Bumi
JawaPos.com - Apa yang terjadi di orbit bukan lagi sekadar eksperimen sains, melainkan manuver geopolitik abad ke-21. Keberhasilan Tiongkok menempatkan model kecerdasan buatan Qwen-3 milik Alibaba Cloud untuk beroperasi langsung di ruang angkasa menandai babak baru perebutan kekuasaan digital global, di mana dominasi tidak lagi ditentukan hanya oleh chip di darat, tetapi oleh kemampuan komputasi di luar atmosfer.
Peristiwa ini harus dibaca sebagai strategi, bukan inovasi belaka. Dengan memindahkan inferensi AI ke orbit, Tiongkok mengurangi ketergantungannya pada infrastruktur terestrial atau berbasis darat yang rentan terhadap sanksi, gangguan jaringan, atau tekanan geopolitik Barat. Dalam logika kekuasaan, siapa yang menguasai komputasi di antariksa memiliki keunggulan struktural atas arus data global.
Dilansir dari South China Morning Post, Senin (2/2/2026), Alibaba Cloud, unit komputasi awan dan AI dari Alibaba Group Holding, berhasil mengunggah dan mengoperasikan model AI serbaguna Qwen-3 di orbit Bumi. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa Beijing tengah menggeser pusat gravitasi kekuatan digitalnya dari darat ke ruang angkasa, bukan sekadar mengejar prestise teknologi.
Langkah ini dimediasi oleh perusahaan rintisan kedirgantaraan Tiongkok, Adaspace Technology, yang menempatkan Qwen-3 di pusat komputasi orbitalnya dan menguji kemampuan inferensi pada November tahun lalu. Artinya, yang terjadi bukan demonstrasi laboratorium, melainkan uji coba operasional yang mendekati aplikasi dunia nyata.
Wakil Presiden Eksekutif Adaspace, Wang Yabo, menegaskan kesiapan sistem tersebut dengan pernyataan tegas, "Seluruh proses, mulai dari pengunggahan kueri dari Bumi, inferensi di orbit, hingga pengiriman hasil kembali ke Bumi, berlangsung dalam waktu kurang dari dua menit." Kecepatan ini menunjukkan bahwa AI di antariksa telah melampaui tahap konsep menuju fungsi strategis.
Inisiatif tersebut berakar pada proyek ambisius Star-Compute Project, rencana pembangunan jaringan sekitar 2.800 satelit yang diproyeksikan untuk mendukung "AI fisik", pelatihan model, serta inferensi langsung di orbit. Skala proyek tersebut menunjukkan bahwa Beijing tidak sekadar menutup kesenjangan teknologi, tetapi mulai merancang ekosistem komputasi antariksa yang dapat berdiri sejajar dengan infrastruktur Barat.
Implikasinya jauh melampaui teknologi sipil. Ketika satelit berubah dari alat komunikasi menjadi infrastruktur komputasi cerdas, negara yang mengendalikannya memperoleh keunggulan dalam pemantauan, analisis data real-time, dan pengambilan keputusan strategis, termasuk di bidang keamanan dan pertahanan.
Namun, Tiongkok tidak bergerak sendirian. Sumber yang sama mencatat bahwa Amerika Serikat lebih dulu melakukan demonstrasi serupa ketika perusahaan berbasis Washington, Starcloud, menjalankan model AI terbuka Gemma buatan Google di orbit pada akhir tahun lalu. Hal ini menandakan bahwa antariksa kini menjadi medan baru perlombaan AI global.
Perbedaannya terletak pada skala dan visi. Jika eksperimen Starcloud menunjukkan kelayakan teknis, Star-Compute Project menunjukkan strategi industri jangka panjang. Dengan kata lain, Amerika Serikat menguji, sementara Tiongkok membangun sistem.
Pada akhirnya, Keberhasilan Qwen-3 di orbit menunjukkan bahwa medan perebutan kekuasaan AI tidak lagi terbatas pada pusat data di darat. Tiongkok sengaja mengangkat komputasinya ke ruang angkasa untuk mengamankan keunggulan strategis di luar jangkauan tekanan geopolitik Barat. Jika tren ini berlanjut, peta dominasi teknologi global tidak lagi ditentukan terutama di Silicon Valley, melainkan juga oleh siapa yang paling cepat membangun kecerdasan Buatan di langit.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
