Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 September 2026 | 04.45 WIB

Tiongkok Persempit Kesenjangan AI dengan AS Saat Risiko Teknologi Makin Diperdebatkan

AI menjadi arena persaingan teknologi AS dan Tiongkok sekaligus memunculkan kekhawatiran baru soal keamanan dan tata kelola / Foto: (ABC News) - Image

AI menjadi arena persaingan teknologi AS dan Tiongkok sekaligus memunculkan kekhawatiran baru soal keamanan dan tata kelola / Foto: (ABC News)

JawaPos.com — Perlombaan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok memasuki fase baru. Ketika kedua negara mulai memperingatkan risiko teknologi yang mereka kembangkan sendiri, kemampuan model AI Tiongkok justru semakin mendekati produk terdepan AS. Perubahan ini berlangsung meski Washington membatasi akses Tiongkok terhadap cip tercanggih dan mesin pembuatnya.

Selama bertahun-tahun, AS unggul dalam kemampuan model, riset, dan sitasi ilmiah. Namun, laporan Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence dan penilaian sejumlah pakar menunjukkan Tiongkok mulai berperan sebagai penyeimbang kekuatan AI AS. “Kesenjangan antara model AS dan Tiongkok makin sempit dan rapuh,” kata Samm Sacks, peneliti senior Johns Hopkins School of Advanced International Studies.

Dilansir dari ABC News, Rabu (16/9/2026), perkembangan itu terlihat dari kemunculan sejumlah model Tiongkok. Moonshot AI mengejutkan Silicon Valley melalui Kimi K3 yang sempat menempati peringkat ketiga dunia dalam kecerdasan model pada Juli menurut Artificial Analysis, sebelum turun ke posisi kesembilan. DeepSeek sebelumnya mengguncang pasar global melalui R1 pada Januari 2025 dan kemudian memamerkan V4 dengan peningkatan kemampuan pengetahuan, penalaran, serta kemampuan merencanakan dan menjalankan tugas kompleks secara mandiri.

Persaingan juga datang dari Z.ai dan Alibaba. Z.ai meluncurkan GLM-5.2 pada Juni, lalu GLM-5.3 pada Agustus dengan peningkatan kemampuan pemrograman dan eksekusi tugas. Sementara itu, Alibaba pada Juli memperkenalkan Qwen3.8-Max sebagai model terkuat dalam serinya. Model-model itu dinilai mampu menantang produk perusahaan AS seperti Anthropic dan OpenAI, meski posisi dalam peringkat global masih berubah cepat.

Kemajuan itu berlangsung bersamaan dengan kekhawatiran keamanan di Beijing. Menteri Keamanan Negara Tiongkok Chen Yixin memperingatkan bahwa AI dapat mengancam keamanan politik, kelembagaan, dan ideologi jika disalahgunakan oleh “pihak-pihak yang bermusuhan atau individu dengan motif tersembunyi”. Dia juga memperingatkan penggunaan audio dan video palsu berbasis AI untuk menyebarkan “rumor politik” dalam skala besar.

Chen turut menyoroti Claude milik Anthropic dan GPT milik OpenAI sebagai contoh kemampuan AI yang dapat mempermudah identifikasi serta “mempersenjatai” celah keamanan siber. Menurutnya, negara dan kelompok tertentu kini dapat “menjalankan tugas peretasan yang kompleks”. Karena itu, pemimpin Tiongkok mendorong percepatan pengembangan AI sekaligus kemandirian teknologi, tetapi juga menyerukan pengendalian risiko dan kerangka tata kelola AI global.

Di Washington, perhatian bergeser pada teknik distillation, yakni metode melatih model menggunakan keluaran model yang lebih kuat. FBI, NSA, dan CISA pada 8 September menuduh perusahaan AI berbasis Tiongkok melakukan ekstraksi kemampuan model AS secara “agresif, berbahaya, dan tertarget” dalam skala industri. Ketiga lembaga itu mengatakan teknik tersebut dapat membantu mempersempit kesenjangan teknologi tanpa biaya komputasi dan riset sebesar yang dibutuhkan untuk membangun model terdepan dari awal.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, “Perusahaan-perusahaan Tiongkok mendistilasi model kami dan mereka tidak akan pernah bisa melampaui kami.” Beijing menolak tuduhan itu dan menyatakan distillation merupakan teknik yang digunakan secara luas dalam industri AI. Tiongkok juga meminta AS menghentikan “tuduhan yang tidak berdasar” serta menuduh Washington berupaya menciptakan “monopoli industri AI”.

Lizzi C. Lee dari Asia Society Policy Institute mengatakan tuduhan tersebut masih diperdebatkan. “Tuduhan-tuduhan ini masih diperselisihkan, tetapi saya kira implikasi strategisnya sudah penting,” ujarnya. Menurut Lee, AS selama ini berfokus mengendalikan masukan AI terdepan, terutama cip, tetapi kini perlu memperhatikan keluaran model sebagai bentuk transfer teknologi.

“Laboratorium-laboratorium AS menghabiskan sumber daya komputasi yang sangat besar untuk mendorong batas kemampuan AI. Namun, pengembang Tiongkok dapat belajar dari sistem-sistem itu,” kata Lee. Menurutnya, perusahaan Tiongkok kemudian dapat merilis model dengan bobot terbuka yang sangat mumpuni dan menyebarkannya ke berbagai negara.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore