Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 September 2025, 21.52 WIB

Abu Dhabi Luncurkan Model AI Hemat Biaya K2 Think, Tantang OpenAI dan DeepSeek di Panggung Global

Ilustrasi agen AI K2 Think, model penalaran baru asal Abu Dhabi yang digadang menyaingi OpenAI dan DeepSeek di panggung global (Dok. Euro News) - Image

Ilustrasi agen AI K2 Think, model penalaran baru asal Abu Dhabi yang digadang menyaingi OpenAI dan DeepSeek di panggung global (Dok. Euro News)

JawaPos.com - Persaingan global dalam kecerdasan buatan (AI) semakin sengit dengan hadirnya Abu Dhabi sebagai penantang baru. Universitas Mohamed bin Zayed University of Artificial Intelligence (MBZUAI) mengumumkan peluncuran model penalaran AI hemat biaya bernama K2 Think, yang digadang mampu menyaingi sistem besutan OpenAI dan DeepSeek.

Dilansir dari Wired, Sabtu (13/9/2025), langkah ini menandai ambisi Uni Emirat Arab (UEA) untuk menempatkan diri sebagai pusat pengembangan AI dunia, sekaligus mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak mentah. Model ini dikembangkan MBZUAI bersama G42, perusahaan AI asal UEA yang didukung oleh raksasa teknologi Amerika Serikat, Microsoft.

Dengan hanya 32 miliar parameter, K2 Think jauh lebih kecil dibandingkan model DeepSeek R1 yang memiliki 671 miliar parameter. Meski begitu, para penelitinya menegaskan performanya setara dengan model unggulan OpenAI maupun DeepSeek.

"Yang kami temukan adalah, dengan sumber daya yang lebih sedikit pun, Anda tetap bisa melakukan jauh lebih banyak," ujar Richard Morton, Managing Director MBZUAI.

K2 Think dibangun di atas model open-source Qwen 2.5 milik Alibaba dan diuji menggunakan perangkat keras dari pembuat chip AI, Cerebras. Open-source berarti perangkat lunak dengan kode sumber terbuka yang bisa dipakai dan dimodifikasi publik.

Menurut Hector Liu, Direktur Institute of Foundation Models MBZUAI, performa tinggi K2 Think tercapai lewat kombinasi metode seperti chain-of-thought supervised fine-tuning—teknik melatih AI berpikir selangkah demi selangkah—serta test-time scaling, yakni menambah daya komputasi saat model menghadapi data baru.

"Yang membuat model kami istimewa adalah cara kami memperlakukannya sebagai sebuah sistem, bukan sekadar model," ujar Liu.

Lebih lanjut, Liu menambahkan, "Sulit menunjuk satu langkah yang paling penting. Hasil akhirnya muncul karena semua metode yang dipadukan bekerja secara menyeluruh." Pendekatan ini dinilai menjadi faktor kunci yang memungkinkan K2 Think bersaing dengan model raksasa buatan AS dan Tiongkok.

Namun, ambisi UEA membangun kekuatan AI tidak lepas dari konteks geopolitik. Amerika Serikat dan Tiongkok masih menjadi dua pemain dominan dalam perlombaan AI. Kejutan DeepSeek dengan model R1 awal tahun ini telah memperkuat posisi Tiongkok, sementara OpenAI tetap menjadi pionir dalam model dasar AI global.

Di sisi lain, UEA berusaha memperluas pengaruh melalui G42. Meski demikian, hubungan erat perusahaan tersebut dengan Microsoft sempat menuai sorotan di Washington karena keterkaitannya dengan Tiongkok. Persaingan regional pun semakin ketat dengan Arab Saudi, yang melalui Humain berupaya membangun kemampuan AI penuh berbasis investasi dana kekayaannya.

Meski ambisi besar UEA masih menghadapi jalan panjang, Morton menegaskan fokus K2 Think tidak ditujukan untuk membuat chatbot seperti ChatGPT. Sebaliknya, model ini diarahkan untuk mendukung bidang ilmu pengetahuan dan matematika.

"Proses penalaran otak manusia adalah fondasi dari semua proses berpikir," jelas Morton. "Dengan aplikasi ini, ribuan orang bisa menghemat waktu bertahun-tahun dalam memecahkan satu persoalan atau uji klinis tertentu."

Dengan efisiensi dan ukuran yang lebih ramping, K2 Think dipandang sebagai alternatif AI yang dapat memperluas akses teknologi ke wilayah-wilayah yang tidak memiliki infrastruktur maupun modal setara dengan Amerika Serikat.

"Yang kami temukan adalah dengan lebih sedikit, kita bisa menghasilkan jauh lebih banyak," tutup Morton.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore