
Larry Ellison dan OpenAI yang menggambarkan kemitraan strategis bernilai besar di tengah risiko gelembung AI (The Verge)
JawaPos.com - Di tengah lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) global, Larry Ellison mendorong Oracle keluar dari zona nyaman bisnis perangkat lunak menuju pertaruhan besar pada infrastruktur AI. Melalui kemitraan masif dengan OpenAI, Oracle tengah mengikat masa depannya pada satu pemain yang hingga kini belum mencetak keuntungan stabil.
Transformasi ini menandai pergeseran fundamental. Dari perusahaan basis data dengan tingkat keuntungan tinggi namun pertumbuhan stagnan, Oracle kini beralih ke bisnis komputasi awan berbasis AI yang padat modal, berisiko besar, dan menuntut belanja investasi agresif. Nilai kontraknya dengan OpenAI mencapai sekitar 300 miliar dolar AS (setara Rp 5.223 triliun, kurs Rp 17.410 per dolar AS), menjadikannya salah satu kesepakatan komputasi terbesar dalam sejarah industri teknologi.
Melansir dari The Verge, Rabu (6/5/2026), arah strategi ini berangkat dari keyakinan Ellison tentang sumber keuntungan utama AI. Laporan tersebut menegaskan, "Keuntungan terbesar bukan berasal dari pelatihan model dasar, melainkan dari penggunaan model untuk menghasilkan hasil dari data baru."
Namun, pendekatan ini membawa risiko besar. OpenAI masih membakar dana dalam jumlah besar dan belum mencetak keuntungan stabil, sementara Oracle sudah lebih dulu menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data.
Konsekuensinya, struktur risiko Oracle menjadi sangat terkonsentrasi. Lebih dari 300 miliar dolar AS dari total kewajiban kontrak perusahaan berasal dari OpenAI, menjadikannya bukan hanya pelanggan terbesar, tetapi juga faktor penentu kesehatan finansial Oracle ke depan. Jika OpenAI gagal memenuhi komitmen, tekanan terhadap neraca Oracle akan signifikan.
Baca Juga:Tertekan Pasar dan Siapkan PHK Massal, PayPal Berbalik ke AI untuk 'Jadi Perusahaan Teknologi Lagi'
Di sisi lain, langkah ini mencerminkan karakter Larry Ellison yang cenderung meninggalkan bisnis mapan saat dianggap tidak lagi menarik. Investor Paul Kedrosky dari SK Ventures menyebut, "Ini adalah kisah Larry sejak dulu. Setiap kali dia pergi berlayar, dia berkata perusahaan ini tidak lagi menyenangkan," seraya menilai model bisnis lama yang "pertumbuhannya rendah dan margin keuntungannya tinggi membuatnya merasa tua dan tidak relevan."
Sejarah memperlihatkan pola serupa. Pada 1990-an, Ellison telah memproyeksikan komputasi berbasis jaringan—cikal bakal komputasi awan. Namun, eksekusinya gagal, sementara pemain lain seperti Marc Benioff melalui Salesforce dan Amazon melalui AWS justru memimpin pasar. Keterlambatan itu kini coba ditebus lewat AI.
Secara strategi, langkah Oracle juga mencerminkan dinamika pasar global. Karena OpenAI belum melantai di bursa, investor di Wall Street menggunakan Oracle sebagai instrumen tidak langsung untuk bertaruh pada pertumbuhan AI. Dibandingkan Microsoft yang memiliki bisnis lebih terdiversifikasi, Oracle dipandang sebagai eksposur yang lebih langsung terhadap sektor ini.
Namun, fondasi taruhan ini belum sepenuhnya kokoh. OpenAI masih dibayangi pergantian eksekutif dan tekanan untuk segera menghasilkan pendapatan. Dalam memo internal, CEO Sam Altman mengakui, "Saya memperkirakan suasana di luar akan terasa sulit untuk sementara waktu," mencerminkan kondisi internal yang belum stabil di tengah tuntutan ekspansi bisnis.
Selain faktor internal, risiko eksternal turut membayangi. Proyek pembangunan pusat data yang menjadi tulang punggung strategi ini menghadapi potensi keterlambatan akibat penolakan masyarakat, tantangan energi, hingga dinamika geopolitik. Dalam model bisnis dengan belanja modal besar, keterlambatan berarti arus kas keluar tetap berjalan tanpa diimbangi pemasukan yang sepadan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
