Sam Altman, CEO OpenAI, di tengah strategi senyap perusahaan mengembangkan kembali robotika dan menyiapkan fondasi robot humanoid (Business Insider)
JawaPos.com - Ketika perhatian publik tertuju pada kecerdasan buatan generatif dan persaingan model bahasa besar, OpenAI justru melakukan manuver senyap yang berpotensi mengubah peta industri teknologi global. Perusahaan di balik ChatGPT itu kembali masuk ke robotika, sebuah bidang yang pernah mereka tinggalkan, di tengah perlombaan raksasa teknologi dunia membangun robot humanoid untuk kehidupan sehari-hari.
Langkah ini menempatkan OpenAI pada poros baru persaingan strategis global, sejajar dengan perusahaan-perusahaan seperti Tesla yang secara terbuka memamerkan robot humanoid, namun dengan pendekatan yang jauh lebih tertutup, berbasis data, dan bertumpu pada kerja manusia sebagai fondasi pembelajaran mesin.
Dilansir dari Business Insider, Rabu (28/1/2026), OpenAI secara diam-diam membangun kembali laboratorium robot humanoid selama setahun terakhir. Laboratorium tersebut beroperasi di San Francisco dan mempekerjakan sekitar 100 pengumpul data yang bekerja sepanjang waktu untuk melatih lengan robot melakukan tugas-tugas rumah tangga, sebagai bagian dari upaya jangka panjang membangun robot humanoid.
Kembalinya OpenAI ke robotika bukan tanpa sejarah. Pada fase awal berdirinya, perusahaan ini sempat mengembangkan tangan robot yang mampu menyelesaikan Rubik's Cube. Namun proyek itu dihentikan pada 2020. Saat itu, juru bicara OpenAI menyatakan perusahaan memilih untuk "memfokuskan kembali tim pada proyek lain."
Kini, arah itu berubah. CEO OpenAI Sam Altman sebelumnya menilai dunia belum mencapai titik balik robot humanoid. "Dunia belum memiliki momen robot humanoidnya, tetapi itu akan datang," ujarnya. Di balik pernyataan tersebut, OpenAI justru menyiapkan fondasi teknisnya secara bertahap dan senyap.
Alih-alih melatih robot humanoid utuh, OpenAI memusatkan upaya pada pengoperasian lengan robot Franka melalui sistem kendali cetak tiga dimensi bernama GELLO. Para pekerja manusia mengajarkan robot melakukan tugas sederhana, mulai dari memindahkan benda hingga melipat pakaian untuk menghasilkan data pelatihan dalam skala besar.
Pendekatan ini mencerminkan pergeseran strategi yang lebih luas dalam industri. "Semua pihak sedang berebut cara untuk mengembangkan kumpulan data berskala besar," kata Jonathan Aitken, pakar robotika dari University of Sheffield.
Menurut dia, "Kita tahu algoritma AI mampu dilatih dengan data besar. Masalahnya selama ini adalah mendapatkan data tersebut."
Strategi OpenAI juga dinilai lebih hemat biaya dibanding metode pesaing yang menggunakan baju penangkap gerak dan realitas virtual. Alan Fern, pakar AI dan robotika dari Oregon State University, menilai pendekatan ini lazim secara teknis.
Namun dia mengingatkan, "Banyak perusahaan berharap jika mereka mengumpulkan cukup banyak data, akan muncul efek skala seperti ChatGPT. Itu belum terbukti."
Di tengah upaya tersebut, OpenAI juga mulai membuka pintu ke ekspansi perangkat keras. Pekan lalu, perusahaan mengajukan permintaan proposal kepada produsen di Amerika Serikat untuk kemitraan perangkat konsumen, robotika, dan pusat data komputasi awan. Meski demikian, OpenAI belum mengungkapkan nilai investasi maupun jadwal pelaksanaannya.
Manuver senyap OpenAI ini menunjukkan bahwa perlombaan AI global tidak lagi berhenti pada perangkat lunak. Ketika perusahaan teknologi dunia berebut masa depan robot humanoid, OpenAI memilih membangun dasar paling krusial terlebih dahulu: data, skala, dan pemahaman gerak manusia meski jalannya masih panjang dan hasil akhirnya belum pasti.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
