Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 September 2023 | 06.24 WIB

Kontroversi TikTok Shop, UMKM dan Kreator Konten Lokal Sebut Melarang Social Commerce Adalah Sebuah Kemunduran

TikTok Shop.

JawaPos.com - Wacana pemisahan fungsi media sosial dan e-commerce mendapatkan tentangan dari pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan kreator lokal. Pasalnya, mereka selama ini telah menggantungkan hidupnya dengan beraktivitas di social commerce.

Makanya, ketika wacana pemisahan platform digital tersebut digaungkan oleh pemerintah, UMKM dan kreator lokal melihatnya sebagai sebuah kemunduran.

Salah satu UMKM lokal yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap wacana pemerintah tersebut adalah pasutri pemilik brand lokal Floral.id yang berpusat di Bogor, Resya Mawaranti dan Dino Angga Ramadani. Menurut mereka, pemerintah seharusnya mendukung dan memberikan edukasi cara memaksimalkan social commerce untuk platform jualan, bukan malah mengubah regulasi yang tidak perlu.

"Sejak pandemi, saya bergabung ke TikTok Shop karena sering mendengar imbauan pemerintah yang mengatakan ‘jika UMKM mau naik kelas maka harus menguasai digitalisasi'. Makanya, ketika TikTok Shop tidak boleh dijadikan platform jualan, itu saya sebut sebuah kemunduran," ujar Dino dari keterangan tertulis yang diterima.

Usaha yang dibuatnya pada 2017 itu awalnya tidak memproduksi barang sendiri. Mereka berangkat dari bisnis reseller fashion. Ketika pandemi melanda, Dino dan Resya pun memutar otak dan ketemulah ide memproduksi masker sendiri yang memang dibutuhkan banyak orang kala itu. Masker yang mereka jual sangat terjangkau, sehingga permintaannya cukup tinggi dan mereka juga memiliki reseller, yang sebagian besar merupakan orang-orang yang terdampak oleh pandemi, seperti karyawan yang di-PHK, sehingga sangat membutuhkan bantuan dalam mencari penghasilan.

Dino dan Resya dulu juga belum mengerti dunia social commerce. Mereka mengawali bisnis online dengan berjualan di Instagram dan WhatsApp. Namun, kata Resya, kecenderungan konsumen untuk batal membeli sangat besar karena harus berpindah-pindah aplikasi. Tapi setelah bergabung di TikTok Shop, hanya dengan satu platform mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan mudah dan penjualan pun meningkat pesat. Bahkan sempat tembus hingga 1 juta produk di social commerce tersebut.

"Seharusnya semua platform digital bisa membuat inovasi dan fitur yang nyaman seperti yang ada di TikTok Shop sehingga kami, para UMKM lokal, melihat dengan booming-nya social commerce akan lebih banyak perkembangan dari layanan dan produk teknologi yang akan memberikan peluang bisnis lebih besar. Namun, rasanya dengan adanya peraturan yang baru menutup kemungkinan tersebut" kata Dino.

Hendri Alejandro, seorang kreator lokal di social commerce, mengamini apa yang disampaikan Dino dan Resya. Dia mengatakan bahwa social commerce merupakan platform digital favorit bagi kreator dan pebisnis kecil seperti dirinya. Pasalnya, penggabungan media sosial dan alat jualan membuat proses transaksi lebih mudah dan cepat alih-alih harus terpisah aplikasi.

"Saya awalnya hanya scroll-scroll TikTok saja seperti pengguna kebanyakan. Namun ketika saya bikin konten terkait ibu dan bayi, kok ya trafiknya langsung meningkat. Saya kemudian coba-coba gabung 'keranjang kuning' dan jualan perlengkapan ibu dan bayi. Saya kasih tips bagaimana caranya pakai gendongan, dan lain-lain. Dari awalnya sekali live dapat ratusan ribu, saat ini setiap bulannya saya bisa menghasilkan 1 sampai 2 miliar," jelasnya.

Menurut Hendri, TikTok tidak sekadar memberikan platform gratis untuk berjualan, tapi kadang juga memberikan promo seperti gratis ongkir. Yang membuatnya lebih tertarik lagi, TikTok dengan sigap menghadirkan pendamping yang membantunya mengembangkan akunnya menjadi lebih besar lagi.

"Di April 2022 saya dihubungi TikTok Creator Manager yang membantu saya dalam mengelola akun supaya lebih berkembang. Intinya sih konsisten, jangan mudah menyerah. Dari situ akan terlihat hasilnya. Saya butuh sekitar 2 sampai 3 bulan untuk bisa booming di TikTok dan menghasilkan uang," kata Hendri.

Kreator lokal lainnya, seorang ibu rumah tangga bernama Indah Putri, sempat menitikkan air mata ketika menceritakan kesulitan hidupnya sebelum akhirnya sukses meraih penghasilan dari social commerce.

"Dulu nafkah keluarga kami hanya dari suami yang bekerja sebagai ojol. Saya awalnya hanya iseng posting konten di TikTok, tidak mengerti cara mengedit video dan jualan. Namun saya belajar terus dan konsisten posting video. Dari situ, follower bertambah dan pendapatan semakin meningkat hingga mencapai Rp1 miliar per bulan. Semua saya lakukan sendirian hingga saat ini," kata Indah yang telah dikaruniai dua orang anak.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore