
Photo
JawaPos.com–Pasien yang dirawat di Rumah Sakit Darurat Lapangan (RSDL) Indrapura tidak hanya mendapatkan perawatan selama sakit. Setelah dinyatakan sembuh dan dipulangkan, pasien masih ditemani dan dimonitor relawan selama 4, 6, hingga 14 hari sesuai dengan masa inkubasi dan kondisi pasien.
Ketua Pelaksana Relawan Pendamping Keluarga Pasien Covid-19 RSDL Indrapura Radian Jadid menjelaskan, hal itu sebagai bagian dari aksi pengurangan penderita Covid 19. ”Biasanya, kami menemani dan mengantar pasien sampai di rumah. Kemudian kami mengedukasi dan melakukan sosialisasi pada tetangga serta ketua RT RW,” tutur Jadid pada Kamis (20/8).
Namun, Jadid menyayangkan masih ada sambutan negatif masyarakat. Ada beberapa penolakan dari warga. ”Sempat dibentak. Pintu juga dibanting. Kebanyakan penolakan datang dari tetangga yang nggak mau mantan pasien kembali tinggal di wilayahnya,” ungkap Jadid.
Jadid dan 20 relawan lain pun memutar otak. Mereka akhirnya mengajak masyarakat untuk berpikir dan berempati.
”Apa yang terjadi bila pasien adalah keluarga atau orang terdekatnya. Jadi selalu tanya gimana kalau kamu yang kena atau keluargamu yang harus dirawat. Kalau sudah diajak berpikir begitu, biasanya mereka nggak menolak lagi,” ujar Jadid.
Selain penolakan masyarakat, Jadid juga menemukan penolakan dari lingkungan kerja mantan pasien. Terlebih lagi lingkungan kerja yang mewajibkan mantan pasien untuk swab dua kali. ”Kalau sudah begitu, kami biasa mengajak mereka untuk menurut dan memenuhi keinginan perusahaan. Soalnya ada yang diancam dipecat,” tutur Jadid.
Jadid mengatakan, kerja relawan sangat terbantu dengan kehadiran puskesmas yang memonitor dan mengawasi pasien. Terlebih lagi, wilayah jangkauan RSDL adalah se-Jawa Timur. Otomatis, mereka harus bekerja keras dengan jumlah relawan yang tidak seberapa.
”Waktu itu pernah kami harus mengantar mantan pasien di Ponorogo. Disana, kami malah ditolak pemilik rumah yang mana adalah anak pasien. Alasannya karena dia baru diterima menjadi staf di puskesmas setempat. Dia khawatir bila kedatangan ayahnya akan membuatnya dipecat dan tidak lagi menjadi pegawai. Namun setelah ketemu dan dilakukan edukasi serta penjelasan akhirnya clear, pasien bisa diterima dan dinkes setempatpun bisa mahaminya,” kenang Jadid.
Jadid berpesan kepada masyarakat untuk tidak memandang mantan pasien dengan negatif. ”Semua orang berpotensi untuk jadi suspect Covid-19. Jadi harus pandai menjaga diri,” ucap Jadid.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=zXEvtRwQl-U
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022