Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Juli 2021 | 23.50 WIB

Banyak Nakes Terpapar Covid-19, Surabaya Butuh Relawan Medis

BERI MOTIVASI: Tenaga kesehatan menuliskan kata-kata penyemangat sebelum bertugas di RSD Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/1). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

BERI MOTIVASI: Tenaga kesehatan menuliskan kata-kata penyemangat sebelum bertugas di RSD Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/1). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Jawa-Bali sudah berjalan hampir dua pekan. Namun, laju penularan Covid-19 belum juga melandai. Bahkan, makin banyak saja tenaga kesehatan (nakes) yang ikut terpapar virus SARS-CoV-2.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya dr Brahmana Askandar SpOG mengatakan, sampai Rabu (14/7) sedikitnya ada 270 dokter yang terpapar. Sebanyak 211 orang menjalani isolasi mandiri dan 59 lainnya mendapat perawatan di rumah sakit. ’’Jumlah itu (270, Red) baru dokter yang ada di struktural. Belum nakes yang lain. Perawat, misalnya,’’ kata dr Brahmana kepada Jawa Pos.

Dia memprediksi nakes yang terpapar berpotensi terus bertambah. Risiko tertular sangat besar. Sebab, mereka bekerja menangani pasien Covid-19 tanpa istirahat. Nah, mereka sangat mungkin tertular dari pasien yang ditanganinya. ’’Pokoknya, kami sudah berjuang habis-habisan,’’ ujarnya.

Dia mengakui, jumlah tenaga medis yang menangani penyembuhan pasien Covid-19 terus berkurang karena terpapar virus. Kondisi itu terjadi di sejumlah rumah sakit. Bahkan, lanjut dia, ada sejumlah rumah sakit yang dokter di ICU tinggal dua orang. Mereka pun harus bekerja all-out tanpa istirahat. ’’Tidak bisa beristirahat karena tidak ada lagi dokter pengganti. Laporan seperti ini banyak (rumah sakit kekurangan dokter, Red),’’ papar dr Brahmana.

Nah, dalam kondisi seperti itu, sambung dia, penambahan tenaga medis sangat diperlukan. Pemkot Surabaya sudah berencana merekrut relawan medis untuk membantu nakes yang sudah ada.

Wakil Wali Kota Surabaya Armudji mengatakan, relawan kesehatan bisa berasal dari mahasiswa semester akhir yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang kesehatan dan medis. Di antaranya, mahasiswa fakultas kedokteran (FK) atau mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes). ’’Tapi, tetap didampingi dan di bawah bimbingan dokter penuh,’’ kata Armudji.

Saat ini pemerintah telah mengoptimalkan pelayanan di 64 puskesmas hingga 24 jam pelayanan. Nah, tentu saja fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) itu membutuhkan tenaga kesehatan yang banyak untuk menyokong pelayanan. ’’Harapannya, relawan kesehatan dapat membantu pelayanan di puskesmas-puskesmas,’’ kata Cak Ji, sapaan karib Armudji.

Baca Juga: Khofifah Berharap Jatim Capai Herd Immunity Pada Agustus

Selain itu, sambung dia, para relawan medis akan disebar ke berbagai kelurahan maupun RT/RW. Termasuk membantu menangani pasien yang menjalani isoman di rumah. Dalam situasi darurat, pihaknya dituntut mengambil langkah cepat untuk menjamin keselamatan warga Kota Pahlawan. ’’Sekarang kita harus ambil terobosan, hindari administrasi njelimet dan birokratis. Jadi, rekrutmen relawan kesehatan seharusnya bisa juga dilakukan pada situasi pandemi ini,’’ tandas Cak Ji.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore