Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Agustus 2026 | 20.10 WIB

Studi Ungkap Otak Tetap Berubah Setelah COVID-19, Termasuk pada Pasien yang Sudah Pulih

Ilustrasi otak yang menunjukkan perubahan jaringan dan zat kimia setelah infeksi COVID-19 / Foto: (Psypost) - Image

Ilustrasi otak yang menunjukkan perubahan jaringan dan zat kimia setelah infeksi COVID-19 / Foto: (Psypost)

JawaPos.com — COVID-19 mungkin meninggalkan jejak di otak yang bertahan lebih lama dari gejala penyakitnya. Sebuah studi pencitraan otak menemukan adanya perubahan pada jaringan dan zat kimia otak, bukan hanya pada pasien yang mengalami long COVID, tetapi juga pada orang yang merasa telah pulih sepenuhnya.

Temuan ini menarik perhatian karena gangguan seperti brain fog, mudah lelah, dan masalah ingatan selama ini lebih sering dikaitkan dengan long COVID. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang tidak lagi merasakan gejala pun dapat memiliki karakteristik jaringan otak yang berbeda dibandingkan mereka yang tidak pernah terinfeksi COVID.

Para peneliti menggunakan beberapa metode pemindaian untuk melihat kondisi mielin, struktur mikroskopis jaringan, serta keseimbangan zat kimia di otak. Mielin merupakan lapisan yang melindungi serabut saraf dan membantu sinyal listrik bergerak cepat di antara berbagai bagian otak.

Dilansir dari PsyPost, Senin (17/8/2026), penelitian yang dilakukan tim Griffith University di Australia tersebut melibatkan 47 orang dewasa. Sebanyak 19 peserta mengalami long COVID, 12 telah pulih dari COVID-19, sementara 16 lainnya tidak pernah terinfeksi dan menjadi kelompok pembanding.

1. Perubahan otak ditemukan pada pasien long COVID dan yang sudah pulih

Pemindaian menunjukkan adanya perbedaan sinyal mielin pada kedua kelompok yang pernah terinfeksi COVID-19 dibandingkan kelompok yang tidak pernah terinfeksi. 

Pada pasien long COVID, perubahan terlihat antara lain di precentral gyrus dan middle temporal gyrus, wilayah otak yang berkaitan dengan pengendalian gerakan dan memori.

Sementara itu, peserta yang telah pulih juga menunjukkan perubahan sinyal mielin di precentral gyrus dan posterior cingulate cortex. Artinya, hilangnya gejala tidak selalu berarti seluruh karakteristik jaringan otak telah kembali seperti kondisi kelompok yang tidak pernah terinfeksi.

2. Struktur mikroskopis jaringan otak ikut menunjukkan perbedaan

Para peneliti juga mengamati pergerakan molekul air di dalam jaringan otak menggunakan diffusion tensor imaging. Pada jaringan yang sehat, air bergerak dalam pola tertentu, sedangkan perubahan pola tersebut dapat mengindikasikan adanya perubahan pada struktur mikroskopis jaringan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore