Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Juli 2021 | 19.00 WIB

Khofifah Berharap Jatim Capai Herd Immunity Pada Agustus

Masyarakat saat mengikuti vaksin di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Jumat (25/6/2021). Kementerian Kesehatan menghapus surat domisili sebagai salah satu syarat program vaksinasi nasional di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan milik pe - Image

Masyarakat saat mengikuti vaksin di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Jumat (25/6/2021). Kementerian Kesehatan menghapus surat domisili sebagai salah satu syarat program vaksinasi nasional di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan milik pe

JawaPos.com – Ledakan pasien baru yang terpapar virus korona di Jatim masih terus berlangsung. Bahkan, selama dua hari terakhir, penambahan kasus anyar sudah melebihi 5 ribu per hari.

Meski demikian, satgas Covid-19 memastikan situasi pandemi masih bisa dikendalikan. Sebab, lonjakan tersebut terjadi karena tracing ketat yang terus berlangsung. Selain itu, jumlah pasien yang sembuh terus bertambah.

Berdasar data Satgas Covid-19 Jatim, penambahan pasien baru selama dua hari terakhir di atas angka 5 ribu. Pada Selasa (13/7) mencapai 6.269 pasien. Kemarin lebih banyak lagi. Ada 7.088 pasien baru. Menjadi yang tertinggi sejak pandemi terjadi awal 2020 silam.

Lonjakan tersebut tak lepas dari tingginya penambahan kasus di sejumlah daerah. Beberapa di antaranya di atas 200 kasus. Di antaranya, Kota Surabaya, Sidoarjo, Kediri, Malang, Nganjuk, Kota Malang, Jember, dan Gresik.

Jika mengacu angka, tentu saja lonjakan tersebut mengkhawatirkan. Namun, Satgas Covid-19 Jatim menyebut situasi tersebut sudah diprediksi.

Kok bisa? Juru Bicara Satgas Covid-19 dr Makhyan Jibril mengatakan, tingginya penambahan kasus baru disebabkan peningkatkan jumlah tracing (penelusuran) per hari oleh tim di lapangan. ”Tracing ditingkatkan. Dulu, di bawah 10 ribu orang per hari. Sekarang mencapai 14 ribu per hari,’’ katanya.

Dampak yang ditimbulkan bisa ditebak. Angka kasus positif bakal meningkat. Namun, situasi tersebut dianggap positif. Sebab, penanganan kasus baru bisa lebih cepat sehingga potensi kesembuhan tinggi.

Sejauh ini, proyeksi tersebut sesuai. Selama beberapa hari terakhir, angka kesembuhan stabil di atas seribu orang per hari. ”Perlahan, pasien yang masih dirawat berkurang, kasus di bawah permukaan juga terungkap,’’ jelasnya.

Sejak awal, Gubernur Khofifah Indar Parawansa memang menginstruksikan perluasan 3T (tracing, testing, dan treatment) alias lacak, tes, dan perawatan. Strategi itu memunculkan banyak warga yang terpapar. Mereka bisa ditangani.

Selain tracing, pemprov menggenjot cakupan vaksinasi. Khofifah menargetkan cakupan vaksinasi mencapai 70 persen dari jumlah warga Jatim pada Agustus nanti. Dengan begitu, bisa memberi herd immunity (kekebalan komunal) pada warga Jatim. ”Kami berharap target dan harapan itu tercapai. Sekaligus menjadi kado di Hari Kemerdekaan RI,” katanya.

Saat ini, total kumulatif kasus positif di Jawa Timur mencapai 210.460 kasus. Pasien yang masih dirawat pun meningkat menjadi 26.992 orang atau setara 12,83 persen. Total pasien sembuh mencapai 168.795 orang. Lalu, total pasien meninggal mencapai 14.669 orang.

Usulkan Standardisasi Insentif Relawan


Saat ini Jawa Timur sedikitnya membutuhkan 4.569 perawat baru untuk membantu penanganan pandemi virus korona. Proses rekrutmen sudah dimulai.

Selain itu, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dilibatkan untuk mencarikan tenaga relawan. Hanya, hingga kini upaya tersebut begitu sulit. Rekrutmen yang digelar sepi peminat. ”Mencari perawat yang ingin bergabung menjadi relawan sangat sulit saat ini,” ucap Sekretaris DPW PPNI Jatim Misutarno kemarin.

Misutarno mengatakan, syarat perawat yang ingin bergabung sebagai relawan sebenarnya tidaklah sulit. Pertama, mereka sudah lulus pendidikan dan mengantongi surat tanda registrasi (STR). Kedua, mereka yang dinyatakan lulus pendidikan profesi bisa langsung bergabung.

Insentif untuk relawan di RS rujukan Covid-19 yang ditunjuk pemerintah pusat mencapai Rp 7,5 juta per bulan. Berbeda dengan RS swasta, besaran gaji perawat bergantung pada ketentuan RS dan pemerintah daerah.

Baca Juga: MUI Minta Warga Patuhi Anjuran Salat Id di Rumah

Terkait kondisi terakhir itu, PPNI Jatim mengusulkan adanya standardisasi upah yang diterima relawan selama bekerja. ”Paling tidak, RS swasta maupun pemerintah daerah bisa memberikan upah sebesar Rp 5 juta per bulan,” katanya.

Tidak hanya itu, PPNI Jatim juga berharap adanya perlindungan dari rumah sakit dan pemerintah daerah untuk menyediakan tempat menginap bagi relawan. Dengan demikian, mereka bisa bekerja dengan tenang dan fokus. Jatah permakanan juga sebaiknya disediakan selama relawan bekerja.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore