
Photo
JawaPos.com - Pekan lalu pemkot merilis okupansi hotel tinggal 10 persen akibat pandemi Covid-19. Sejumlah hotel pun terpaksa merumahkan seluruh pegawainya. Upaya itu dilakukan sebagai efektivitas pada masa krisis seperti saat ini.
’’Ada empat hotel yang tutup sementara,’’ ungkap Kadisnaker Dwi Purnomo. Dia tidak menyebutkan hotel mana saja yang merumahkan pegawainya. Yang jelas, mereka tidak bisa memaksakan membuka usaha karena beban operasional dan gaji pegawai tidak sebanding dengan pemasukan.
Selain itu, Dwi menerima banyak aduan tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) dari berbagai perusahaan. Seluruh permasalahan itu dibahas bersama Komisi D DPRD Surabaya hari ini (13/4).
Yang jelas, disnaker berjanji mengawal seluruh pengaduan dari para karyawan tersebut.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya Herlina Harsono Njoto menyatakan tahu persis kondisi pegawai yang dirumahkan tersebut. Sebab, suaminya bekerja di perusahaan outsourcing atau alih daya yang menyuplai kebutuhan pekerja di sejumlah hotel. ’’Situasinya serbasulit. Di satu sisi, perusahaan memang tak mungkin memaksa buka. Di sisi lain, banyak yang kehilangan pekerjaan. Pandemi ini termasuk bencana yang tidak bisa diduga,’’ ujar ketua Fraksi Demokrat-Nasdem tersebut.
Dalam satu hotel, ada ratusan pegawai yang dirumahkan. Mulai pegawai di kantor manajemen, resepsionis, petugas satpam, laundry, parkir, hingga juru masak. Efeknya bakal berantai. Kalau hotel tutup, pemasok sayuran, daging, dan bahan makanan lainnya juga ikut terkena imbas. Belum lagi sektor lain yang tidak terhubung langsung.
Herlina berharap kebijakan pegawai yang dirumahkan tidak merembet hingga ke PHK. Dia juga mewanti-wanti perusahaan tidak memanfaatkan situasi dengan menjadikan krisis pada masa pandemi Covid-19 ini sebagai alasan PHK. ’’Pegawai tetap dilindungi undang-undang. PHK tidak boleh sepihak,’’ tegas dia.
Dia juga berharap perusahaan aktif memberikan data para pegawai yang dirumahkan kepada pemkot. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan jatah sembako 20 kilogram beras beserta abon dan kering tempe untuk kebutuhan makan dua bulan. Bantuan sembako itu sejatinya hanya diberikan kepada 736 ribu warga yang masuk data masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Herlina meyakini pegawai yang dirumahkan belum masuk data MBR tersebut. Namun, mereka tetap perlu menerima bantuan yang sama.
’’Karena itulah, penjaringan MBR ini perlu koordinasi lintas dinas. Disnaker bisa berkoordinasi dengan dinsos terkait dengan nasib pekerja itu,’’ tuturnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=KVXf0pQEyxk
https://www.youtube.com/watch?v=H7ZbPGwOVYc
https://www.youtube.com/watch?v=ckdSBd3TtBI

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
