
Ratusan massa dari berbagai kelompok mengikuti aksi demonstrasi peringatakan Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (9/3). (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Ratusan masyarakat dari masyarakat sipil melakukan aksi demonstrasi memeringati Hari Perempuan Internasional (IWD) di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya pada Senin (9/3).
Dari pantauan JawaPos.com, massa yang didominasi oleh Perempuan ini lebih dulu berkumpul di Jalan Basuki Rahmat, kemudian long march menuju Gedung Grahadi. Aksi dimulai sekitar 14.30 WIB.
Massa membawa poster yang mewakili keresahan mereka. Ada yang bertuliskan "Tubuh Perempuan Bukan Komoditas". Ada juga "Jangan Didik Perempuan untuk Takut, Didik Laki-laki untuk Tidak Menindas".
Yang lain "Perkawinan Anak Bukan Solusi Melawan Zina. Stop Perkawinan Anak". Kalimat-kelimat satir juga mewarnai poster massa aksi IWD, seperti "Antek-antek Asing Didewakan, UU TPKS Diabaikan".
Korlab Aksi Peringatan Hari Perempuan Dunia di Surabaya, Syska La Veggie mengatakan aksi ini dikutip lebih dari 200 orang, dari kelompok mahasiswa, lembaga hukum, buruh perempuan, dan organisasi perempuan Surabaya.
"Kami membawa 23 tuntutan yang sudah disepakati bersama dalam rangkaian IWD. Tuntutan ini mewakili keresahan banyak kelompok, tidak hanya perempuan," ucapnya kepada JawaPos.com, Senin (9/3).
Berikut 23 tuntutan aksi peringatana International Women's Day (IWD) Surabaya 2026:
1. Mendesak negara dan setiap orang untuk berkomitmen memberikan perlindungan bagi pejuang hak asasi manusia atau pembela rakyat, perempuan dan kelompok rentan lainnya meliputi anak-anak, lansia, buruh/buruh migran, penyandang disabilitas, kelompok minoritas agama/keyakinan, kelompok dengan ragam identitas gender dan orientasi seksual, masyarakat adat, pedagang, pekerja rumah tangga, aktivis, mahasiswa, pendamping hukum/korban, pekerja malam, hingga pers/jurnalis.
2. Hentikan segala bentuk diskriminasi, kekerasan, represifitas, intimidasi, kriminalisasi hingga pembungkaman kebebasan berpendapat dan berekspresi terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya di berbagai sektor baik di ruang publik maupun di ruang digital.
3. Mendesak negara untuk membangun, membentuk dan/atau membuat struktur, norma atau kebijakan dan prosedur yang mewujudkan keadilan gender dan kesetaraan gender.
4. Menghapuskan demokrasi yang militeristik yang mengancam ruang aman bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya.
5. Mendesak agar kampus menghentikan segala bentuk represifitas dan memastikan berjalannya kebebasan akademik bagi civitas akademik termasuk pers mahasiswa.
6. Mengutuk segala bentuk seksisme, bahkan sekedar bercandaan yang seksis.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
