
Ilustrasi penjualan tanah di Surabaya barat meningkat. (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com–Tren warga yang menjual tanah kavling di Surabaya Barat kian meningkat. AREBI Jatim mencatat, dalam dua tahun terakhir jumlah orang yang menitipkan penjualan tanah ke broker naik 25–40 persen.
Faktor ekonomi menjadi penyebab utama. Mulai kebutuhan mendesak, biaya usaha, hingga beban Pajak Bumi Bangunan (PBB). Dewan Penasihat AREBI Jatim Rudi Sutanto menyebut, mayoritas tanah yang dijual merupakan warisan keluarga. Selain itu, banyak pemilik tanah memilih melepas aset karena keberatan membayar PBB. Kenaikannya antara 20-40 persen dibanding dua tahun sebelumnya.
“Biasanya mereka butuh uang cepat. Ada juga yang memilih menjual karena tidak sanggup lagi menanggung beban pajak,” jelas Rudi yang juga Principal Java Property CitraLand.
Dia mengatakan, setiap transaksi, pembeli maupun penjual wajib melunasi PBB terlebih dahulu. Meskipun PBB belum lunas tidak mengurangi harga tanah. Tetapi syarat transaksi, PBB harus bersih. Broker memastikan dokumen valid sebelum masuk ke notaris atau PPAT.
Dia menambahkan, harga tanah kavling di luar developer relatif lebih murah dibandingkan kawasan perumahan. Rata-rata Rp 2 juta–Rp 3 juta per meter persegi. Sementara di area developer bisa mencapai Rp 5 juta–Rp 6 juta per meter persegi.
“Selisihnya bisa dua kali lipat. Itu sebabnya kavling perorangan masih banyak diminati, meski lokasinya cenderung di pinggiran,” kata Rudi Sutanto.
Beberapa titik yang masih banyak penjualan tanah kavling di Surabaya Barat antara lain Kendung, Kebraon, dan Sumurwelut. Kavling lama umumnya berukuran 9 x 20 meter hingga 10 x 20 meter. Ada juga yang lebih besar, sekitar 20 x 50 meter.
"Untuk ukuran besar, biasanya dibeli untuk home industry. Kalau ukuran kecil, lebih cocok untuk rumah tinggal," kata Rudy.
Meski penjual meningkat, sisi pembeli justru cenderung lesu. Ketua AREBI Jatim Budiono Yuwono menuturkan, transaksi tanah maupun rumah di Surabaya Barat tidak seramai sebelum pandemi.
“Yang menjual tetap banyak, tapi bayarnya yang susah. Daya beli lesu,” ujar Budiono.
Budiono menuturkan, tidak ada koreksi harga tanah yang naik signifikan. Sebab harganya justru tetap dan cenderung sedikit menurun karena tidak ada pergerakan.
Hal ini karena permintaan pasar yang tidak banyak. Sementara, warga yang menjual asetnya baik rumah atau lahan setiap tahunnya selalu ada. Dia berharap, keberadaan infrastruktur di Surabaya barat bisa mendongkrak harga tanah.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
