Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Juni 2025 | 01.14 WIB

Melawan Waktu, Perempuan 46 Tahun di Surabaya Lahirkan Bayi Kembar dari Satu Embrio

Nur Endah Wahyuningsih (46) dan suaminya, Jordy Bertrand (44), berpose bahagia bersama bayi kembar identik mereka yang lahir lewat program IVF. (Juliana Christy / JawaPos.com) - Image

Nur Endah Wahyuningsih (46) dan suaminya, Jordy Bertrand (44), berpose bahagia bersama bayi kembar identik mereka yang lahir lewat program IVF. (Juliana Christy / JawaPos.com)

JawaPos.com – Di usia yang kerap dianggap senja untuk hamil, Nur Endah Wahyuningsih (46) justru membuktikan hal sebaliknya. Perempuan asal Magelang itu berhasil melahirkan bayi kembar identik hasil program bayi tabung (IVF), dalam proses medis yang tergolong langka dan berisiko tinggi.

Yang membuat kisah ini mencengangkan, kedua bayi tersebut berasal dari satu embrio—sebuah fenomena yang menurut dunia medis, sangat jarang terjadi.

Nur dan sang suami, Jordy Bertrand (44), warga negara Belanda, telah melalui perjuangan panjang. Lebih dari sepuluh tahun mereka menanti kehadiran buah hati. Empat kali mengikuti program IVF namun selalu gagal, mereka nyaris menyerah. Namun satu kali lagi mencoba di Surabaya, ternyata membawa keajaiban.

“Setiap kegagalan itu menyakitkan. Tapi kami terus yakin, kalau waktunya tiba, semua akan terbayar,” ujar Nur, Kamis (19/6), menahan air mata.

Program kelima mereka dijalankan saat Nur menginjak usia 45 tahun. Dari sisi medis, peluang kehamilan dengan satu embrio di usia tersebut amat kecil. Spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Benediktus Arifin atau dr. Benny dari Morula IVF Surabaya, yang menangani proses ini menyebut, kemungkinannya hanya sekitar 1 persen. Dan dari embrio tunggal yang berhasil menjadi kembar identik? Itu lebih langka lagi—sekitar 1 dari 10.000 kasus.

“Secara angka statistik, peluangnya nyaris nol. Tapi hasilnya justru jadi momen luar biasa,” ujar Benny.

Tim medis menggunakan teknologi Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A) untuk memilih embrio yang paling sehat secara genetik. Prosedur ini sangat krusial, mengingat kehamilan pada usia lanjut rawan terhadap gangguan kromosom dan risiko komplikasi.

Namun dari proses ketat itu, hasilnya tak hanya positif. Embrio tunggal yang ditanam berkembang menjadi dua janin identik yang sehat. Kehamilan berjalan lancar hingga proses persalinan. Dua bayi mungil itu lahir tanpa komplikasi, menjadi jawaban dari penantian panjang sang ibu.

“Ketika melihat mereka lahir, saya benar-benar terharu. Bukan hanya sebagai dokter, tapi juga sebagai manusia,” kata Benny mengenang.

Di dunia medis, kehamilan di atas usia 45 tergolong kehamilan risiko tinggi. Risiko komplikasi meningkat, dan kemungkinan janin mengalami kelainan genetik juga jauh lebih besar. Namun dengan kemajuan teknologi dan tim yang kompeten, kasus seperti Nur menunjukkan bahwa harapan tetap ada.

Jordy, sang ayah, mengaku masih sulit mempercayai apa yang mereka alami. “Ini bukan sekadar menjadi orang tua. Ini seperti menyaksikan mukjizat terjadi di depan mata,” ucapnya.

Kisah Nur dan Jordy menjadi inspirasi baru bagi pasangan yang masih berjuang. Bahwa usia bukanlah penghalang mutlak, dan bahwa kesempatan bisa datang bahkan saat semua orang mengira waktu sudah habis.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore