Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 31 Mei 2025 | 22.30 WIB

Banjir Rob Meningkat di Surabaya, Penurunan Tanah Jadi Ancaman Serius

Ilustrasi banjir rob. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang) - Image

Ilustrasi banjir rob. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)

JawaPos.com – Dalam empat hari terakhir, banjir rob kembali menerjang wilayah pesisir utara dan timur Surabaya. Fenomena ini tak semata-mata disebabkan oleh pasang air laut, melainkan diperparah oleh penurunan muka tanah (land subsidence) yang terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Hasil riset tahun 2023 mencatat bahwa laju penurunan tanah di kawasan pesisir Surabaya berkisar antara 0,2 hingga 83,3 milimeter per tahun. Jika dibiarkan, pada tahun 2033 wilayah tersebut bisa mengalami penurunan permukaan tanah antara 0,2 meter hingga 8 meter.

Titik penurunan terbesar tercatat berada di perbatasan Tandes dan Asemrowo, yang kini menjadi kawasan dengan kerentanan banjir rob paling tinggi. Penurunan ini membuat permukaan tanah menjadi lebih rendah dari permukaan laut, sehingga air laut dengan mudah masuk ke daratan, terutama saat pasang tinggi.

Penurunan tanah ini membuat permukaan daratan lebih rendah dari muka laut. Itu sebabnya wilayah pesisir utara menjadi sangat rentan terhadap banjir rob,” ujar Ali Yusa, pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, Sabtu (31/5).

Sementara itu, kawasan timur Surabaya juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Di wilayah Rungkut, misalnya, tercatat penurunan tanah mencapai 0,28 meter per tahun. Kondisi ini memperburuk sistem drainase kota dan menyebabkan banjir rob terjadi lebih sering dan dengan intensitas yang lebih besar, terutama saat terjadi hujan deras bersamaan dengan pasang laut.

Ali Yusa menjelaskan bahwa penurunan muka tanah di Surabaya umumnya disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, ditambah dengan beban pembangunan infrastruktur yang terus meningkat. Kombinasi dua tekanan ini — dari bawah akibat penyedotan air tanah, dan dari atas karena pembangunan — menjadikan kondisi tanah di Surabaya semakin tidak stabil.

Tak hanya itu, sedimentasi di sepanjang pesisir utara dan timur Surabaya juga ikut memperparah banjir rob. Material lumpur dan pasir dari aliran sungai serta gelombang laut mengendap di muara dan saluran air, menyebabkan kapasitas saluran menurun drastis.

Akibatnya, air tak bisa mengalir optimal dan akhirnya meluap ke kawasan permukiman. “Kesetimbangan aliran sungai patut diperhatikan. Tanpa pengelolaan sedimentasi yang baik, genangan akan makin meluas, apalagi di daerah dengan sistem drainase yang belum optimal,” ujar peneliti sungai dan pesisir itu. 

Ali menambahkan bahwa solusi terhadap persoalan ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan terpadu, mulai dari pengendalian ekstraksi air tanah, perbaikan sistem drainase, hingga pengelolaan sedimentasi secara berkelanjutan.

Teknologi pemantauan seperti GPS dan InSAR bisa dimanfaatkan untuk memantau penurunan muka tanah secara real-time, sehingga pemerintah dan warga bisa merespons lebih cepat terhadap perubahan kondisi lingkungan. Selain itu, restorasi ekosistem pesisir seperti penanaman mangrove juga penting dilakukan. Vegetasi pesisir ini berfungsi sebagai penahan alami terhadap gelombang laut dan membantu mengurangi dampak banjir rob secara alami.

“Upaya ini tidak bisa ditunda. Jika tidak ditangani serius, wilayah yang dulunya aman dari genangan bisa berubah menjadi langganan banjir rob,” tegas Ali Yusa.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore