
Ilustrasi banjir rob. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)
JawaPos.com – Dalam empat hari terakhir, banjir rob kembali menerjang wilayah pesisir utara dan timur Surabaya. Fenomena ini tak semata-mata disebabkan oleh pasang air laut, melainkan diperparah oleh penurunan muka tanah (land subsidence) yang terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Hasil riset tahun 2023 mencatat bahwa laju penurunan tanah di kawasan pesisir Surabaya berkisar antara 0,2 hingga 83,3 milimeter per tahun. Jika dibiarkan, pada tahun 2033 wilayah tersebut bisa mengalami penurunan permukaan tanah antara 0,2 meter hingga 8 meter.
Titik penurunan terbesar tercatat berada di perbatasan Tandes dan Asemrowo, yang kini menjadi kawasan dengan kerentanan banjir rob paling tinggi. Penurunan ini membuat permukaan tanah menjadi lebih rendah dari permukaan laut, sehingga air laut dengan mudah masuk ke daratan, terutama saat pasang tinggi.
“Penurunan tanah ini membuat permukaan daratan lebih rendah dari muka laut. Itu sebabnya wilayah pesisir utara menjadi sangat rentan terhadap banjir rob,” ujar Ali Yusa, pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, Sabtu (31/5).
Sementara itu, kawasan timur Surabaya juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Di wilayah Rungkut, misalnya, tercatat penurunan tanah mencapai 0,28 meter per tahun. Kondisi ini memperburuk sistem drainase kota dan menyebabkan banjir rob terjadi lebih sering dan dengan intensitas yang lebih besar, terutama saat terjadi hujan deras bersamaan dengan pasang laut.
Ali Yusa menjelaskan bahwa penurunan muka tanah di Surabaya umumnya disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, ditambah dengan beban pembangunan infrastruktur yang terus meningkat. Kombinasi dua tekanan ini — dari bawah akibat penyedotan air tanah, dan dari atas karena pembangunan — menjadikan kondisi tanah di Surabaya semakin tidak stabil.
Tak hanya itu, sedimentasi di sepanjang pesisir utara dan timur Surabaya juga ikut memperparah banjir rob. Material lumpur dan pasir dari aliran sungai serta gelombang laut mengendap di muara dan saluran air, menyebabkan kapasitas saluran menurun drastis.
Akibatnya, air tak bisa mengalir optimal dan akhirnya meluap ke kawasan permukiman. “Kesetimbangan aliran sungai patut diperhatikan. Tanpa pengelolaan sedimentasi yang baik, genangan akan makin meluas, apalagi di daerah dengan sistem drainase yang belum optimal,” ujar peneliti sungai dan pesisir itu.
Ali menambahkan bahwa solusi terhadap persoalan ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan terpadu, mulai dari pengendalian ekstraksi air tanah, perbaikan sistem drainase, hingga pengelolaan sedimentasi secara berkelanjutan.
Teknologi pemantauan seperti GPS dan InSAR bisa dimanfaatkan untuk memantau penurunan muka tanah secara real-time, sehingga pemerintah dan warga bisa merespons lebih cepat terhadap perubahan kondisi lingkungan. Selain itu, restorasi ekosistem pesisir seperti penanaman mangrove juga penting dilakukan. Vegetasi pesisir ini berfungsi sebagai penahan alami terhadap gelombang laut dan membantu mengurangi dampak banjir rob secara alami.
“Upaya ini tidak bisa ditunda. Jika tidak ditangani serius, wilayah yang dulunya aman dari genangan bisa berubah menjadi langganan banjir rob,” tegas Ali Yusa.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
