
Dokumentasi kegiatan di Kampung Anak Negeri Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya)
JawaPos.com - Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, M. Isa Ansori menyoroti langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menangani kenakalan anak-anak.
Sebagai informasi, meski kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengirim anak nakal ke barak militer dicontoh banyak daerah, Surabaya memilih pendekatan lain mengirim mereka ke Kampung Anak Negeri (KANRI).
Di KANRI, anak-anak akan dibina dengan berbagai pelatihan, mulai dari kerja sosial, pengembangan life skill, keterampilan berwirausaha, hingga wawasan kebangsaan dan keagamaan.
Menurut Ansori, setiap anak yang terlibat dalam kenakalan remaja hingga kekerasan, seperti tawuran antar pelajar, sejatinya merupakan korban dari berbagai kondisi sosial yang kompleks.
"Korban dari kemiskinan yang memaksa orang tua bekerja 12 jam sehari. Korban lingkungan kumuh yang lebih banyak menawarkan jalan pintas daripada pendidikan," tutur Ansori di Surabaya, Jumat (23/5).
Anak-anak yang masyarakat sebut 'nakal' adalah korban sistem sosial yang kerap dipandang sebagai masalah yang harus dihukum, bukan malah sebagai generasi muda yang perlu diselamatkan.
Ansori mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya menangani kenakalan anak, melalui Kampung Anak Negeri dan Asrama Bibit Unggul. Hanya saja, ia meragukan efektivitas program dalam jangka panjang.
"Jika kita jujur, berapa banyak dari anak-anak ini yang benar-benar berubah setelah kembali ke rumah? Ke keluarga yang masih miskin, ke lingkungan yang masih keras, ke masa depan yang masih suram?" keluh Ansori.
Ia kemudian memberikan contoh seorang remaja berinisial A, 14 tahun. A merupakan anak dari buruh serabutan di kawasan Surabaya Utara. Ia pernah terlibat tawuran yang membuatnya dikirim ke KANRI.
Setelah dibina selama tiga bulan di KANRI, A menunjukkan perubahan positif. Sayangnya ketika kembali ke lingkungan asalnya yang keras dan penuh tekanan, tantangan serupa kembali mengujinya.
"Inilah mengapa Pemkot Surabaya butuh pendekatan baru. Bukan hanya menyelamatkan anak untuk sementara, tetapi menyelamatkan masa depan anak-anak secara permanen," tukas Ansori. (*)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
