Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Mei 2023 | 20.25 WIB

Investasi di Surabaya Timur Tertinggi, Surabaya Barat Berkembang

PUSAT EKONOMI: Deretan kafe yang ada di Jalan Tunjungan beberapa waktu lalu. Capaian investasi Surabaya terus tumbuh. Pemkot optimistis nilainya melebihi tahun lalu. - Image

PUSAT EKONOMI: Deretan kafe yang ada di Jalan Tunjungan beberapa waktu lalu. Capaian investasi Surabaya terus tumbuh. Pemkot optimistis nilainya melebihi tahun lalu.

JawaPos.com – Investasi menjadi salah satu faktor kemajuan wilayah. Modal yang masuk itu menggerakkan roda perekonomian, mendorong pembangunan, hingga mengurangi angka pengangguran. Meski sempat menurun saat pandemi Covid-19, capaian investasi Surabaya kembali bergerak naik.

Modal yang masuk di metropolis pada triwulan I tahun ini mencapai Rp 6,1 triliun. Perinciannya, penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 5,4 triliun dan penanaman modal asing (PMA) Rp 0,7 triliun.

Sektor properti mendominasi investasi. Mulai perumahan, kawasan industri, hingga perkantoran. Persentasenya 30 persen dari total investasi atau sekitar Rp 1,82 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Surabaya Dewi Soeriyawati mengatakan, persebaran investasi di Surabaya merata. Pada triwulan I, para investor menyasar kawasan Sukolilo.

Nilai investasinya paling tinggi, yaitu Rp 1,97 triliun. Di daerah lain seperti Asemrowo dan Semampir, nilai investasinya juga meningkat.

”Setiap wilayah memang memiliki karakteristik daya tarik yang berbeda,” ujarnya Senin (29/5).

Kebutuhan hunian di Kota Pahlawan memang terus meningkat. CEO Pro Edge Joseph Lukito Utojohardjo menyatakan, pangsa pasar rumah di bawah Rp 500 juta masih mendominasi.

Sebab, banyak calon pembeli perumahan itu yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mereka mencari rumah murah meski berada di pinggiran Surabaya dengan ukuran yang tak terlalu luas.

”Harus lihat karakteristik pasar yang ada seperti harga properti dan ketersediaan lahan,” ujarnya.

Disusul rumah kelas menengah. Pembelinya cukup banyak, tapi unitnya terbatas. Sementara itu, untuk rumah mewah, pembelinya masih minim. Dengan begitu, tidak semua developer berfokus menyediakan rumah tipe itu.

Warga yang hendak membeli rumah mewah mencari alternatif lain. Yaitu, membeli kavling atau secondary house. Menurut Joseph, rumah tapak masih diminati ketimbang hunian vertikal.

”Karena kalau tinggal di apartemen, ada konsekuensi lain seperti iuran dan minim sosialisasi,” katanya.

Pascapandemi, transaksi jual beli melalui e-commerce meningkat. Itu membuat pengusaha melirik sektor pergudangan. Mereka berlomba menyewa gudang untuk menyimpan barang sehingga bisa menekan biaya pengeluaran.

”Tapi, ada tantangan. Yaitu, tenaga kerja yang terbatas,” tutur Joseph.

Percepatan laju investasi juga harus didukung dengan regulasi. Joseph berharap perizinan, utamanya di bidang real estate, semakin cepat dan mudah.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore