Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Juli 2021 | 18.05 WIB

Pasien Menumpuk, RSUD dr Soetomo Tambah 200 Bed

MEMBELUDAK: Sejumlah pasien mangantre untuk mendapatkan kamar di RSUD dr Soetomo, Surabaya, kemarin (12/7). (ROBERTUS RISKY/JAWA POS) - Image

MEMBELUDAK: Sejumlah pasien mangantre untuk mendapatkan kamar di RSUD dr Soetomo, Surabaya, kemarin (12/7). (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

JawaPos.com - Jumlah pasien Covid-19 di RSUD dr Soetomo terus melonjak. Ruang IGD penuh sesak oleh pasien yang antre perawatan.

Kepala IGD RSUD dr Soetomo dr I.G.B. Adria Hariastawa SpBA(K) mengungkapkan, angka pasien yang masuk IGD lebih banyak daripada biasanya.

”Seperti kemarin (Minggu, 11/7), kami menerima 120 pasien. Hari ini (kemarin, Red) ada 112,” tuturnya. ”Paling banyak berasal dari klaster keluarga,” imbuh dia.

Pasien tidak hanya berasal dari Surabaya. Ada juga yang dari luar Surabaya seperti Sidoarjo. ”Sekarang ini susah. Karena rumah sakit lain menutup IGD-nya, dilimpahkan semua ke kami,” ujar dia.

Mau tak mau pasien bersabar untuk mendapatkan penanganan tim medis. Sebab, jumlah tenaga kesehatan (nakes) juga terbatas. Adria menuturkan, saat ini kapasitas ruangan isolasi sudah penuh. Ada 70 pasien yang dirawat. ”Sebenarnya ada penambahan bed 60 unit. Tapi, itu juga tidak mampu menampung pasien yang datangnya seperti ini,” katanya.

Berdasar catatan Jawa Pos, lonjakan pasien terjadi sejak akhir Juni lalu. Yang terbanyak terjadi pada Sabtu (26/6). RS menerima 458 pasien.

Dirut RSUD dr Soetomo Dr dr Joni Wahyuhadi SpBS menyatakan, kenaikan kasus akan terus terjadi jika tidak ada penanganan yang lebih serius. ”Saya berharap rumah sakit lain juga ikut membantu. Bukannya menutup IGD yang akhirnya memaksa rujukan dialihkan ke RSUD dr Soetomo semua,” ungkap Joni.

Pihaknya terus mengupayakan penambahan bed bagi pasien. Sebelumnya, Pemprov Jatim menyulap lahan parkir di area IGD sebagai tempat isolasi. ”Saat ini kami berencana menambah bed lagi. Totalnya ada 200 bed,” ujarnya.

Joni mengatakan, ada 12 departemen yang stand by di IGD. Khususnya dari spesialis paru dan penyakit dalam. Dia tetap optimistis pasien bisa dirawat satu per satu. Selain itu, pihaknya berkoordinasi dengan penyuplai oksigen untuk menjaga ketersediaan.

Sementara itu, Koordinator PPKM Darurat Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, dengan upaya penambahan kapasitas medis berupa obat, impor oksigen, dan konversi tempat tidur (TT) untuk pasien Covid-19, diharapkan kondisi mulai membaik 4–5 hari ke depan. Dia berharap pekan depan kurva kasus bisa menunjukkan tanda-tanda mendatar (flattening).

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah berusaha menjaga agar kasus harian tidak lebih dari 30 ribu. Nyatanya, kenaikan kasus kembali memecahkan rekor tertinggi kemarin (12/7). Yakni, 40.427 kasus positif baru. Di sisi lain, angka kesembuhan juga mencapai rekor tertinggi, yakni 34.754.

Berdasar pemantauan mobilitas, kata dia, pada seminggu pertama PPKM darurat (3–10 Juli) mobilitas dan aktivitas masyarakat di Jawa-Bali menurun di angka 10–15 persen.

Dengan panduan PPKM darurat, disiplin prokes, dan vaksinasi, dia menyebut kondisi bisa semakin baik. ”Jadi, kalau ada yang bilang tidak terkendali, suruh datangi saya. Saya tunjukkan ke mukanya kalau ini terkendali. Bahwa ada masalah memang banyak. Tapi, satu per satu diselesaikan oleh tim,” tegasnya.

Baca juga: Tak Dapat RS, Obat Habis, Pasien Covid-19 Ini Meninggal Tanpa Dirawat

Dalam waktu dekat, lanjut dia, pemerintah mengimpor 40 ribu ton oksigen cair (liquid oxygen) untuk persediaan jika kasus melonjak lagi. ”Mungkin kita tidak butuh sebanyak itu. Tapi, kalau melihat tren dunia, perkembangan di Amerika-Inggris tren meningkat tajam. Jadi, ini berjaga-jaga agar kita tidak caught by surprise,” katanya.

Luhut menyatakan, presiden juga sudah menyetujui impor oksigen konsentrator untuk mengurangi penggunaan oksigen cair sejumlah total 50 ribu tabung. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 10 ribu tabung. Tabung-tabung akan didistribusikan ke rumah-rumah untuk warga yang menjalani isoman dengan gejala ringan.

Di sisi lain, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penambahan bed, baik isolasi maupun ICU, juga membutuhkan dukungan perawat dan dokter. Tenaga kesehatan berkurang banyak karena beberapa terpapar virus dan harus melakukan isolasi mandiri.

Untuk penambahan perawat dan dokter, Kemenkes telah mengidentifikasi kebutuhan 16–20 ribu perawat. Untuk dokter, saat ini ada gap 3 ribuan dokter.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore