Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 April 2020 | 03.28 WIB

Pasang Bilik dan Wajibkan Pedagang di Pasar se-Surabaya Pakai Masker

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Pusat Grosir Surabaya (PGS) dan Pasar Kapasan ditutup sementara karena terimbas pandemi Covid-19. Kondisi tersebut mendorong jajaran Pemkot Surabaya untuk siaga. Mereka melakukan berbagai upaya agar pusat perbelanjaan lain steril dari virus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita membenarkan bahwa pihaknya membuat surat pemberitahuan untuk Dinas Perdagangan Surabaya bahwa memang ada empat pasien positif Covid-19.

Dari hasil penelusuran tim Dinkes Surabaya, empat orang tersebut juga bekerja di Pusat Grosir Surabaya (PGS).

Mereka bekerja di lantai 2, 3, dan 4 pasar itu.

’’Semoga pedagang nurut untuk tutup sementara,’’ jelas Feni saat dikonfirmasi kemarin (4/4). Surat itu juga dikeluarkan kemarin.

Dinkes juga memberikan saran untuk menerapkan protokol umum di area publik. Pemkot Surabaya memang membuat banyak protokol di berbagai lokasi. Mulai pemerintahan, transportasi, hingga area publik. Berdasar surat edaran dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini itu, protokol untuk area publik tersebut mulai dari perilaku hidup bersih dan sehat, etika batuk dan bersin, hingga petugas kasir harus mengenakan masker dan sarung tangan serta mencuci tangan pakai sabun.

Lebih lanjut Feni menyebutkan bahwa petugas Dinkes Surabaya akan melakukan contact tracing atau melacak keberadaan orang-orang yang punya kontak erat dengan pasien positif tersebut. Orang terdekat itu bisa keluarga atau teman-teman dekat yang bertemu dalam kurun 14 hari sebelumnya. Pelacakan tersebut ditujukan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Begitu pula dengan Pasar Kapasan. Feni menyebutkan bahwa sudah ada surat pemberitahuan atas temuan salah satu pasien di pasar tersebut. Sama seperti di PGS, dinkes pun berharap pasar itu tutup untuk sementara. ’’Ya tutup sementara untuk mencegah,’’ jelas Feni.

Sementara itu, imbauan untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat tersebut bukan tanpa alasan. Hingga kini memang belum semua masyarakat sadar akan bahaya Covid-19. Contohnya, di Pasar Pabean. Masih banyak pedagang yang tidak memakai masker. Mereka secara terang-terangan tidak mengindahkan imbauan dari pemerintah dan mengobrol secara bebas.

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Agus Hebi Djuniantoro menjelaskan bahwa adanya korban Covid-19 di Pasar Kapasan jadi pelajaran penting. Menyikapi hal itu, pemerintah telah menyebar pengumuman kepada pedagang di pasar-pasar besar kawasan utara. Termasuk di Pasar Pabean.

’’Sekarang kami wajibkan pedagang pakai masker,’’ tegas Hebi. Karena wajib, dia menjelaskan bahwa akan ada sanksi bagi pedagang yang bandel. Mereka dilarang berjualan. ’’Pemkot akan bertindak tegas. Kami mengutamakan kesehatan semua orang,’’ tambah Hebi.

Dia menambahkan bahwa berbagai upaya dilakukan agar pusat perbelanjaan tetap beroperasi. Salah satunya memasang bilik sterilisasi. Alat penyemprot disinfektan disebar ke pasar-pasar besar di seluruh Surabaya.

Selain itu, pemerintah memperbanyak sarana cuci tangan. Mereka mewajibkan pengunjung untuk bersih-bersih sebelum masuk pasar. ’’Upaya penyemprotan pasar akan dilakukan secara bertahap. Sudah ada jadwalnya,’’ papar Hebi.

Namun, niat baik pemerintah belum disambut positif oleh sebagian masyarakat. Ada sarana cuci tangan di pasar yang hilang karena dicuri. Akibatnya, alat tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore