
PERLU REKOMENDASI: Semakin hari penumpang yang memilih TOW semakin sedikit. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
JawaPos.com -Persiapan Pemkot Surabaya untuk melakukan karantina wilayah dalam waktu dekat belum sejalan dengan kebijakan di dua terminal bus. Yakni, Terminal Purabaya dan Osowilangun. Belum ada kebijakan pembatasan bus yang masuk ke dua terminal tersebut.
Pihak Terminal Purabaya memastikan belum ada rencana karantina wilayah atau pembatasan kendaraan di lingkungan terminal. Seluruh proses pelayanan berjalan normal. Mereka masih mengutamakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Kasubnit Terminal Purabaya Imam Hidayat menjelaskan, hingga kemarin, belum ada instruksi mengenai pembatasan kendaraan. Baik bus antarkota antarprovinsi (AKAP) maupun antarkota dalam provinsi (AKDP).
”Tidak ada pembatasan. Kecuali dari PO (perusahaan otobus, Red) masing-masing,” ucapnya. Yang dimaksud Imam adalah kebijakan PO yang membatasi armadanya beroperasi karena sepinya jumlah penumpang.
Yang jelas, saat ini memang ada protokol kesehatan yang diterapkan di terminal. Antara lain, PO harus rutin melakukan penyemprotan disinfektan di armada masing-masing. Sopir dan kru bus juga harus dalam kondisi sehat dan mengenakan masker saat mengantarkan penumpang.
Bagi penumpang, di area kedatangan dan keberangkatan juga disediakan wastafel untuk cuci tangan. Seluruh penumpang juga akan melewati bilik sterilisasi. Langkah terakhir, suhu tubuh mereka akan diukur.
Terpisah, Kepala Unit Terminal TOW Joko Budi Legowo menyatakan bahwa tidak ada pembatasan bus yang masuk ke terminal. Sebetulnya, lanjut dia, dalam beberapa pekan terakhir, bus yang datang telah berkurang dengan sendirinya. Biasanya, di hari normal ada 147 bus. Sekarang jumlahnya tidak sampai ratusan bus.
Meski tidak ada pembatasan, bukan berarti penumpang dan bus bisa masuk serta keluar dengan leluasa. Dia menuturkan, penumpang yang turun di depan terminal akan diperiksa petugas di posko Covid-19. Di pos yang didirikan sejak Minggu (29/3) tersebut, kata Joko, suhu tubuh penumpang bakal dicek. Penumpang juga disemprot disinfektan. ’’Kalau turun di dalam terminal, suhu tubuh dicek. Disemprot juga,’’ ucapnya.
Berdasar data dari tata bidang Terminal TOW, bus AKAP yang masih datang pada Minggu (29/3) berasal dari beragam wilayah. Antara lain, 10 bus rute Cepu–Surabaya, 3 bus Cepu–Surabaya–Malang, dan 5 bus Malang–Surabaya–Cepu. ’’Dengan jam kedatangan dimulai dari pukul 00.00,’’ kata Hery Isbiyanto, koordinator tata bidang Terminal TOW.
Selain itu, Ketua DPC Organda Surabaya Sonhaji Ilallah mengungkapkan bahwa selama ini kondisi para sopir kendaraan umum di Surabaya sudah kembang kempis. Dampak persebaran virus korona memperburuk nasib mereka. ”Laporan dari teman-teman angkutan kota sudah susut 70 persen sekarang ini. Jadi ya tinggal 30 persen,” ujarnya.
Apalagi, sudah ada pembatasan-pembatasan lalu lintas orang. Termasuk kabar bahwa mobilitas bus antarkota antarprovinsi juga dibatasi.
Dia menyebutkan, memang ada pembagian hand sanitizer di angkutan kota. Tetapi, hal tersebut tidak terlalu berdampak pada jumlah penumpang. Apalagi, ada larangan orang untuk keluar rumah dan berkerumun. ”Kami berharap semoga virus ini segera ada obatnya. Biar tidak begini terus keadaannya. Masyarakat kecil sangat terdampak,” ungkapnya.
Soal karantina wilayah, Sonhaji berharap kebijakan tersebut dipikirkan masak-masak. Sebab, karantina wilayah akan berdampak langsung terhadap ekonomi warga. Pemkot diminta mengkaji betul kebijakan itu. ”Jangan sampai warga miskin ini mati kelaparan. Bukan mati karena virus korona,” ucapnya.
KAI Kurangi Perjalanan ke Stasiun Gubeng
Pengurangan perjalanan penumpang justru telah diterapkan PT KAI untuk perjalanan kereta api (KA). Setelah membatalkan satu armada kereta api (KA) dan memperpendek tiga rute armada relasi Stasiun Gubeng, PT KAI Daop 8 Surabaya membatalkan lagi sepuluh perjalanan KA di Stasiun Gubeng.
Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Suprapto menjelaskan, pembatalan armada itu mempertimbangkan kebijakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang perpanjangan status keadaan tertentu darurat hingga 29 Mei 2020.
”Stasiun Gubeng merupakan salah satu pusat kedatangan tertinggi di Surabaya. Jadi, dengan pembatalan tersebut, kami berupaya agar warga tetap aman,” ungkapnya. Tanggal pembatalan armada itu, lanjut Suprapto, berbeda-beda. ”Kami buat dalam empat tahap,” ujarnya. Armada KA yang dibatalkan meliputi perjalanan dari Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Suprapto menambahkan, pembatalan tersebut tentu saja berimbas pada menurunnya jumlah penumpang. Yakni, dari yang biasanya 8 ribu orang per hari menjadi 2 ribu penumpang saja. ”Tapi, di sini sisi positifnya. Kami telah melaksanakan kebijakan yang dibuat pemerintah,” jelasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
