Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Mei 2023 | 13.59 WIB

Anggota GP Ansor Wonoayu Tewas Dikeroyok, 10 Pelaku Ternyata Masih di Bawah Umur

Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro saat menunjukkan sajam yang digunakan pelaku pengeroyokan terhadap anggota Ansor Wonoayu. - Image

Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro saat menunjukkan sajam yang digunakan pelaku pengeroyokan terhadap anggota Ansor Wonoayu.

JawaPos.com – Pelaku penganiayaan hingga tewas terhadap anggota Ansor, Muhammad Daudi Ardiansyah, 18, akhirnya terungkap. Polisi menangkap 10 pelaku yang semuanya masih di bawah umur. Insiden berdarah yang menimpa warga Desa Wonoayu RT 3/RW 4, Kecamatan Wonoayu itu terjadi pada Senin (22/5) dini hari. Lokasinya di lahan kosong yang ada di Desa Sepande, Kecamatan Candi. Polisi berhasil mengungkap motif dan pelaku penganiayaan sehari pascainsiden berlangsung.

Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro mengatakan, seluruh pelaku tergabung dalam dua kelompok gangster yakni RSG 21 dan T3HEROES. Mereka adalah MAP, ASR, AM, PMSRW, RAIP, MFMP, KRPW, RYEY, MPAP, dan DM.
“Semuanya masih berumur 15 hingga 17 tahun,” terang Kusumo seperti dilansir Radar Sidoarjo (Jawa Pos Group).

Kusumo menegaskan, antara korban dengan pelaku adalah sama-sama anggota kelompok geng. Korban tergabung dalam kelompok Sidoarjo Brawl yang saat itu mengirimkan tantangan melalui akun Instagram.

“Postingan tersebut kemudian dibalas oleh kelompok RSG 21 atau Rusia 21 Gangster Surabaya. Kemudian dari RSG 21 ini diteruskan ke kelompok bawahnya yaitu Remaja 21 Kompleks dan T3HEROES,” ungkap Kusumo.

Berdasar kesepakatan itulah, Remaja 21 Kompleks dan T3HEROES melawan Sidoarjo Brawl menyetujui untuk melakukan tawuran pada Senin (22/5) dini hari. Awalnya, mereka janjian di Maspion II Buduran. Tapi tidak ada kelompok Sidoarjo Brawl. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke sekitaran Desa Sepande, Candi.

“Saat bertemu di Sepande, kelompok dari korban kalah jumlah dengan hanya membawa 15 orang sedangkan lawannya membawa sekitar 40 orang yang lengkap dengan senjata tajam,” ujar Kusumo.

Kusumo menambahkan, kelompok korban yang ketakutan kemudian langsung kabur. Korban yang semula dijemput dan dibonceng oleh temannya ketinggalan rombongan dan akhirnya berlari ke arah lahan kosong tersebut.

“Korban mendapat luka irisan pada punggung tangan kiri, tungkai bawah kanan, juga ada luka bacok pada pinggang kiri, tungkai bawah kiri, bokong kiri dan tungkai atas kiri sisi belakang,” jelas Kusumo. Akibatnya, korban menderita luka parah hingga tewas.

Sementara itu, Sri Wayati, 55, ibu korban, mengatakan, pada Minggu (21/5) malam anaknya menghadiri acara banjari di Porong sebelum kejadian tragis tersebut terjadi. “Dia pulang malam, setelah itu dijemput sama temannya keluar. Saya juga ndak ada firasat apa-apa waktu itu,” ujar Sri.

Selain itu, menurut tetangga korban, KH, 45, korban keluar bersama beberapa orang yang terlihat akrab dengannya. Mereka mengaku teman sekolah korban. KH juga tidak mengetahui dengan pasti berapa banyak teman yang menjemput korban. Tetapi dia mengingat bahwa ada dua atau tiga orang yang datang menjemput.

“Malamnya itu memang dijemput, ya terlihat akrab tapi untuk berapa orangnya saya juga ndak ngitung,” imbuh KH.

KH mengungkapkan, korban merupakan anggota GP Ansor Wonoayu dan mengikuti pelatihan bela diri di sebuah perguruan silat.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore