Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Mei 2025 | 14.24 WIB

Dilema Driver Ojol Perempuan: Berjuang Cari Nafkah di Tengah Ancaman Pelecehan

Ilustrasi driver ojek online. Dilema driver ojol perempuan di tengah ancaman pelecehan. (Dokumentasi JawaPos.com) - Image

Ilustrasi driver ojek online. Dilema driver ojol perempuan di tengah ancaman pelecehan. (Dokumentasi JawaPos.com)

JawaPos.com - Bagi sebagian driver online (ojol) perempuan, ancaman pelecehan seksual bukan sekedar kekhawatiran, tetapi pengalaman pahit yang kerap mereka hadapi saat mengais rezeki di lapangan.

Masih terekam jelas di ingatan Retno, 40, bukan nama sebenarnya, saat seorang penumpang laki-laki yang ia antar tiba-tiba mencuri kesempatan untuk menyentuh pahanya, tanpa permisi.

"Waktu itu saya ngerem mendadak, terus badan penumpang terhuyung ke depan, tetapi setelah itu kok dia nggak mundur, malah makin maju seperti sengaja," tutur Ningsih di sela-sela mengikuti demo di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Selasa (20/5).

Tidak terima dan merasa risih dengan tindakan penumpang, ibu dua anak ini sontak menghentikan laju kendaraannya dan tak segan untuk menurunkan penumpang laki-laki tersebut di tengah jalan.

"Pak turun sekarang, saya bilang. 'Panjenengan gak sopan'. Saya masih halus bilangnya karena saya menghargai dia (sebagai penumpang). Saya gak mau, (saya minta bapak) turun, gak usah dibayar," ucapnya menceritakan.

Setelah menurunkan penumpang, Ningsih pun langsung tancap gas meninggalkannya. Ia tidak takut kehilangan ongkos antar maupun mendapat rating (penilaian) jelek dari penumpang. Baginya, keamanan diri jauh lebih utama.

"Saya gak ngurusi itu. Kalau dia (penumpang yang sengaja menyentuh pahanya) memberikan rating gitu (jelek) ya gak papa, saya kan bisa banding ke kantor," seru Ningsih yang sehari-hari berprofesi sebagai guru sekolah dasar (SD).

Pengalaman serupa juga dialami oleh ojol perempuan lain, Ningsih, 48 tahun, bukan nama sebenarnya. Ia menyebut keamanan ojol perempuan di jalanan rawan menjadi korban pelecehan seksual penumpangnya sendiri.

"Kalau boleh kita mengadu, customer cowok bisa seperti itu (melakukan pelecehan) ke driver cewek. Makanya balik lagi, bukan berarti customer cewek selalu dilecehkan driver cowok," tutur Ningsih.

Bukan sekali dua kali, Ningsih menyebut kerap mengantar customer laki-laki yang melakukan modus lama. Menempelkan badan ke punggung Ningsih hingga menyentuh pahanya tanpa permisi.

"Makanya saya katakan, dibilang aman ya aman, gak aman ya gak aman, tergantung konteksnya. Saya beberapa kali dapat customer cowok, dibonceng malah merosot-merosot terus, bukan porno ya, memang pengalaman," keluhnya.

Untungnya, aplikasi transportasi online tempat ia bekerja kini memiliki program prioritas perempuan, yang mengutamakan agar penumpang perempuan mendapat driver sesama perempuan.

"Makanya kenapa sekarang ada prioritaskan perempuan, karena itu tadi mungkin di media sosial juga ramai isu pelecehan. Bukan semua driver loh ya, tapi oknum," seru Ningsih yang sudah 8 tahun menjadi ojol.

Meski tindakan pelecehan seksual terhadap ojol perempuan masih terjadi di lapangan, baik Ningsih maupun Retno memilih tidak melaporkan kepada aplikator maupun pihak berwajib.

"Customer cowok itu banyak yang melakukan pelecehan ke driver cewek. Tetapi saking nggak terekspos, bukti juga kita nggak ada. Masa mereka pas mereka mau pegang kita, terus kita sengaja foto, mungkin gak? gak kober (sempat)," tukas Ningsih. 

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore