Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Juni 2022 | 04.30 WIB

Pusaka Kiai Sedomasjid, Diklaim sebagai Penjaga Kestabilan Surabaya

COBA BERKOMUNIKASI: Dari kiri, Imron (juru kunci) dan Bambang Hadi Purnomo (pakar spiritual) sedang berdoa di pusara Kiai Sedomasjid. Bagian luar area pesarean Kiai Sedomasjid di Jalan Bubutan. (Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

COBA BERKOMUNIKASI: Dari kiri, Imron (juru kunci) dan Bambang Hadi Purnomo (pakar spiritual) sedang berdoa di pusara Kiai Sedomasjid. Bagian luar area pesarean Kiai Sedomasjid di Jalan Bubutan. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Konon, pusaka Kiai Sedomasjid adalah pusat kekuatan Kota Surabaya. Tidak boleh diambil. Sebab, pusaka itulah yang menjaga Surabaya dari segala situasi kegentingan. Beberapa orang pernah dikabarkan berupaya mengambil pusaka Kiai Sedomasjid. Akibatnya, ada yang menjadi gila sampai celaka.

---

SEJARAH tidak menuliskan jelas tentang Kiai Sedomasjid. Namun, sosok tersebut dikabarkan karismatik luar bisa. Makamnya berada di Jalan Tembakan, Kelurahan Alun-Alun Contong, Bubutan. Tepatnya, di depan pintu masuk Tugu Pahlawan.

Makam Kiai Sedomasjid selalu terkunci. Untuk masuk, peziarah wajib menghubungi juru kunci. Bentuk bangunan makam sangat sederhana. Lokasi tersebut dulu dipercaya sebagai kedaton dan pusat pemerintahan awal Surabaya pada zamannya.

Bangunan makam Kiai Sedomasjid dipugar pada 1987. Itu pun hanya di area pusara. Sementara itu, dua gapura masih kukuh berdiri. Bentuk gapuranya pun sama dengan yang di Makam Mbah Bungkul. Begitu juga yang di Makam Sentono, Botoh Putih. Sebab, mereka dipercaya punya hubungan keluarga.

Kiai Sedomasjid diperkirakan hidup pada zaman Pangeran Pekik. Yakni, sekitar 1625–1659. Makam adipati pertama Surabaya itu berada tepat di belakang pusara Kiai Sedomasjid.

Kiai Sedomasjid juga dikenal dengan nama Mbah Badrudin. Beliau dipercaya masih memiliki keturunan dari Kerajaan Mataram. Kedatangannya ke Surabaya tak lain bertujuan menyebarkan ajaran agama Islam.

Nama Kiai Sedomasjid diambil dari kisah akhir Mbah Badrudin. Konon, beliau meninggal di dalam masjid yang berada di sekitar Tugu Pahlawan. Karomah Kiai Sedomasjid dikenal di mana-mana. Pada agresi militer kedua, kawasan tersebut digempur bom. Namun, area makam tetap utuh. Tidak hancur.

Mbah Badrudin dikenal memiliki banyak pusaka. Mulai keris hingga tombak. Bahkan, satu pusara khusus dibuat untuk pusakanya. Imron, juru kunci makam, menuturkan, pusara samping makam Kiai Sedomasjid adalah tempat pusaka. ’’Itu bukan jasad, tapi isinya seluruh pusaka,’’ ucapnya.

Juru kunci generasi ketiga itu mengatakan, tujuan peziarah bermacam-macam. Mulai ngalap berkah hingga mencari pusaka. Padahal, kata Imron, hal itu dilarang karena membahayakan. ’’Ada yang sampai gila karena niatnya tidak baik,’’ jelasnya.

Kisah Kiai Sedomasjid memang misterius. Jawa Pos mencoba untuk menggali ceritanya. Termasuk soal pusaka yang sangat terkenal. ’’Ini kalau diambil bahaya,’’ kata praktisi spiritual Bambang Hadi Purnomo Kamis (2/6) siang.

Kemenyan mulai dibakar. Bambang dan Imron duduk bersila. Mereka berdoa. Komunikasi antardimensi dilakukan. Beberapa informasi mulai digali. Menurut Bambang, pusaka itu turun-temurun dari Sunan Botoh Putih. Pusaka tersebut bisa berfungsi untuk kekuasaan. Siapa pun yang mendapatkan pusaka itu bisa berkuasa. Misalnya, menjadi wali kota. ’’Tapi, ini susah dan sulit diambil,’’ terangnya.

Pusaka tersebut memang tidak untuk diambil karena bahaya. Pusaka keris itulah yang menjaga Surabaya. Jika masih tertancap, segenting apa pun kondisinya, Surabaya tetap terjaga. Hal itu tak lain disebabkan karomah beliau.

Kiai Sedomasjid dikenal sebagai seorang sufi. Beliau berjuang menyelamatkan masjid dari gempuran Belanda. Menurut Bambang, keberadaan Tugu Pahlawan berhubungan dengan makam Kiai Sedomasjid. Lokasi tersebut menjadi titik datangnya karomah beliau.

Konon jika pusaka itu diambil, Tugu Pahlawan akan roboh. Penentuan Tugu Pahlawan dilakukan sendiri oleh Bung Karno. Saat itu presiden pertama RI tersebut hanya menancapkan lidi sebagai titik lokasi Tugu Pahlawan.

Bambang menuturkan, Kiai Sedomasjid adalah sosok yang bersahaja. Beliau hanya ingin makamnya diberi selambu. Mengingat lokasinya berada tepat di pinggir jalan raya. Apalagi, di situ ada makam Pangeran Pekik. Adipati pertama Surabaya.

Menurut Imron, beberapa tokoh juga sempat berziarah ke makam. Mbah Badrudin juga setiap tahun diruwat. Ada acara doa bersama di kampung. Kawasan makam selalu terkunci. Tujuannya, tidak ada penyalahgunaan oleh oknum yang berniat jahat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore