Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 Januari 2024 | 23.30 WIB

Cegah Kebakaran, Pemkot Surabaya Lakukan Pemetaan di Kawasan Padat Penduduk

Ilustrasi petugas DPKP Kota Surabaya memadamkan kebakaran. - Image

Ilustrasi petugas DPKP Kota Surabaya memadamkan kebakaran.

JawaPos.com–Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya terus berupaya mencegah risiko kebakaran di permukiman. Seluruh petugas dan unit kendaraan DPKP Surabaya disiagakan selama 24 jam.

Para petugas tetap berlatih penyelamatan dalam keadaan darurat, serta rutin melakukan pengecekan peralatan dan perlengkapan. DPKP Surabaya menerapkan respons time selama 7 menit dalam pelayanan pemadaman.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya Laksita Rini Sevriani mengatakan, selama 2023 tercatat 793 kasus kebakaran ditangani DPKP Surabaya. Di antaranya, 121 penanganan kebakaran berasal dari bangunan, yaitu perumahan, industri, umum dan perdagangan. Selain itu, 18 penanganan kebakaran dari kendaraan dan 654 berasal dari non bangunan atau ruang terbuka seperti kebakaran alang-alang dan sampah.

Pada 2023, lanjut dia, kasus kebakaran didominasi non permukiman. Yakni diakibatkan fenomena El Nino, bencana kebakaran di lahan terbuka. sosialisasi dan mitigasi terus dilakukan di lingkungan permukiman, pendidikan, dan perkantoran.

”Dalam hal ini sosialisasi dan mitigasi terus dilakukan melalui rayon dan pos. Kami juga menyediakan kunjungan bagi wisata pemadam kebakaran cilik (Wisdamcil) bagi PAUD dan TK. Serta memberikan pelatihan mitigasi kepada guru PAUD,” kata Laksita Rini, Rabu (10/1).

Laksita Rini menjelaskan, respons time 7 menit yang diterapkan DPKP Surabaya untuk meminimalisir korban dan kerugian akibat kebakaran. ”Respons time 7 menit, kita sudah berada di lokasi. Jadi peran warga dalam 3 menit awal sangat diperlukan,” ujar Laksita Rini Sevriani.

Untuk mencapai respons time 7 menit, DPKP Surabaya telah melakukan pemetaan wilayah padat penduduk. Pemetaan untuk mengatur jarak antara proses pemadaman kebakaran dengan rumah warga.

”Jika jarak rumah warga lebih dari 200 meter dengan jalan utama, DPKP Surabaya berencana membuat hidran kering pada 2024, serta menambah sumur dan pos pemadam di Kecamatan Margorejo dan Lontar,” terang Laksita Rini Sevriani.

DPKP Surabaya juga berpatroli untuk menemukan spot atau titik lokasi yang berpotensi menimbulkan bencana kebakaran.

”Jadi yang jalannya sempit, kita membutuhkan selang yang panjang, membutuhkan waktu yang juga panjang. Itu dapat menimbulkan korban jiwa sehingga kita usulkan akan membuat hidran kering untuk memudahkan pemadaman,” terang Laksita Rini Sevriani.

Selain itu, dia menambahkan, DPKP Surabaya juga melibatkan Kader Madagaskar (masyarakat dan keluarga siaga kebakaran) mengantisipasi dan menangani kebakaran di permukiman. Peran warga sangat dibutuhkan dalam 3 menit pertama untuk mencegah api membesar saat kebakaran.

Laksita Rini menyampaikan agar masyarakat lebih berhati-hati jika akan meninggalkan rumah. Kesadaran masyarakat untuk menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) harus ditingkatkan.

”Seperti melakukan pengecekan kompor, elpiji, listrik, dan aspek keselamatan, di rumah. Termasuk sampah dan jangan membuang puntung rokok sembarangan,” ucap Laksita Rini Sevriani.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore