Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 7 Oktober 2023 | 17.52 WIB

Warga Masih Manfaatkan Air Telaga Peninggalan Mbah Gempol, Tokoh yang Babat Alas Wilayah Banyu Urip

TAK BERNAMA: Pusara yang diyakini berisi jasad Mbah Gempol bisa ditemukan di lahan parkir Puskesmas Banyu Urip, Surabaya. - Image

TAK BERNAMA: Pusara yang diyakini berisi jasad Mbah Gempol bisa ditemukan di lahan parkir Puskesmas Banyu Urip, Surabaya.

Nama Banyu Urip tak terlepas dari Mbah Gempol. Dia dianggap sebagai sosok yang babat alas kawasan di Kecamatan Sawahan tersebut. Meski bangunan punden dan sebagainya sudah hilang. Namun, jejaknya masih dirasakan masyarakat setempat. Salah satunya, air yang diklaim bersumber dari bekas telaga.

---

PETILASAN Mbah Gempol sudah tidak ada. Bahkan, makamnya tidak diketahui banyak orang. Bagaimana tidak, lokasinya berada di parkiran mobil Puskesmas Banyu Urip. Tepatnya di Banyu Urip Kidul Gang VI. Pada tahun ’80-an, di lokasi tersebut masih terdapat telaga.

Bahkan, punden itu pernah ditulis G.H. Von Faber dalam buku berjudul Er Werd Een Stad Gaboren tahun 1953. Dalam bukunya, Von Faber menamai lokasi itu dengan punden Soember Oerip. Dari dokumen yang ada, pada 1953 di punden itu masih terdapat pohon beringin besar.

Hal tersebut pun dibenarkan warga setempat, Imam Mukmin. ’’Dulu ada telaganya. Karena ada pembangunan puskesmas, akhirnya hilang (telaga, Red),’’ ucapnya Jumat (6/10) sore.

Bentuk makam Mbah Gempol sangat sederhana. Dari luar gerbang, makam tersebut tidak terlihat. Panjang pusara Mbah Gempol hanya kurang dari 1 meter.

Konon, hal itu memang sesuai dengan posturnya. Literasi sejarah tentang sosoknya memang belum jelas. Namun, warga percaya bahwa dialah yang babat alas di Banyu Urip.

Imam menyatakan, Mbah Gempol memiliki nama lain Sri Hartini. Dia hidup di masa Majapahit. Dia datang ke Banyu Urip tidak lain untuk membuka permukiman. Itu kenapa dirinya membuat telaga. Keberadaan telaga tersebut sangat dibutuhkan saat itu sehingga tidak terjadi lagi kekeringan.

Hilangnya punden Mbah Gempol diperkirakan terjadi tahun ’80-an akhir. Banyak cerita mistis yang saat itu dipercaya masyarakat. Misalnya, pemanfaatan sumber air di telaga.

Menurut Imam, sebelum ada puskesmas bagian belakang, dulu ada pasar pagi. Nah, di tengah pasar terdapat gentong yang berisi air dari sendang.

Konon, air itu sangat mujarab. Terutama untuk anak-anak yang sakit dan ketakutan. Jika ada kejadian tersebut, warga tinggal ambil air di dalam gentong untuk diusapkan ke wajah anak.

Hasilnya, tangisannya langsung berhenti. ’’Sekarang sudah hilang semua,’’ kata Imam.

Nama Banyu Urip diambil dari sendang tersebut. Yang artinya air penghidupan. Menurut Imam, semuanya sudah hilang dan hanya ada satu makam Mbah Gempol. Namun, warga masih percaya dengan kemanjuran air telaga yang sudah ditutup itu.

Satu-satunya air yang diklaim bersumber dari telaga itu kini ada di Masjid Al Amin. Lokasinya persis di samping puskesmas.

Sebagian air yang digunakan jemaah untuk wudu itu dimanfaatkan untuk obat. Masyarakat yang percaya masih menggunakannya untuk keperluan kesehatan dan sebagainya. Menurut Imam, rasa air di masjid tersebut memang beda. Sebab, sumbernya diambil dari lingkungan sendang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore