Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Mei 2020 | 04.00 WIB

Sebar 45 Ribu Alat, Pemprov Jatim Siapkan Tes Masif di Seluruh Wilayah

GRAFIS: CHIS/JAWA POS - Image

GRAFIS: CHIS/JAWA POS

JawaPos.com – Kebijakan baru kembali diluncurkan Pemprov Jatim untuk mendeteksi persebaran coronavirus disease (Covid-19). Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Jatim memutuskan untuk menggelar swab test secara masif di seluruh kabupaten/kota.

Untuk keperluan program tersebut, sebanyak 45 ribu perangkat sudah disiapkan. Berupa PCR dan reagen. Jumlah itu dianggap cukup. Seluruh alat tersebut akan didistribusikan ke berbagai daerah di Jatim.

Program itu merupakan bagian dari mempercepat proses tracing di lapangan. Nanti, jumlah masyarakat yang di-tracing semakin banyak. ”Pemetaan juga bisa semakin cepat dan luas,’’ kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Senin (11/5).

Tokoh yang juga ketua GTPP Covid-19 Jatim itu menegaskan, nanti tes secara masif itu juga diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan lainnya. Mulai jumlah tenaga kesehatan, perangkat, hingga laboratorium.

Saat ini, GTPP Covid-19 Jatim tengah memaksimalkan persiapan laboratorium untuk meneliti seluruh tes. ”Harapannya, bisa lebih cepat sehingga hasilnya segera diketahui,’’ ungkapnya.

Tes secara masif tersebut diprediksi akan memunculkan banyak orang yang hasilnya reaktif atau bahkan positif. Karena itu, daerah diminta menyiapkan tempat observasi untuk menampung mereka. Ruang observasi itu bisa berada di rumah sakit atau menggunakan fasilitas umum milik pemerintahan.

Ketua tim GTPP Covid-19 Rumpun Kuratif dr Joni Wahyuhadi yakin seluruh kabupaten/kota bisa mengatasi itu. Dia menjelaskan, penanganan pasien Covid-19 tidak ribet. Hanya butuh dokter ahli paru-paru, penyakit dalam, dan tim perawat. ”Tidak seperti saat menangani pasien kanker,’’ katanya.

Pembangunan ruang observasi juga tidak butuh lama. Dia mencontohkan pembangunan ruang di RSUD dr Soetomo. Hanya butuh dua minggu. Perangkat yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak. ”Rumah sakit di daerah bisa memenuhi kebutuhan itu,’’ ucapnya.

Joni juga meminta rumah sakit tidak pilih kasih dalam melayani pasien. Kode etik dan sumpah dokter tidak boleh membedakan apakah warga setempat atau tidak. ”Semua harus dilayani,’’ ucapnya.

Sejauh ini, kabupaten/kota mulai mempersiapkan fasilitas layanan bagi pasien Covid-19. Di Banyuwangi, tercatat, sudah ada enam RS yang disiapkan untuk pasien. Awalnya, di kabupaten itu hanya satu RS.

Hingga kemarin, penambahan jumlah kasus positif korona di Jawa Timur masih tinggi. Ada 43 penambahan dari jumlah sebelumnya. Total saat ini mencapai 1.534 kasus positif. Sementara itu, pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 4.166 orang. Untuk orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 12.141 orang.

Penambahan tertinggi terjadi di Surabaya. Jumlahnya mencapai 33 kasus. Disusul Sidoarjo dan Jombang (2 kasus). Lainnya dari Mojokerto, Kota Malang, Bangkalan, Kabupaten Malang, dan Kota Blitar.

Jumlah Klaster di Jatim Potensial Bertambah


Kebijakan perluasan tes yang dilakukan GTPP Covid-19 Jatim tak lepas dari masih tingginya jumlah penambahan pasien baru yang terjangkit virus tersebut. Apalagi, jumlah klaster penyebar terus bertambah.

Hingga kemarin, tim GTPP Covid-19 Jatim maupun gugus tugas di sejumlah kabupaten/kota masih menggelar tracing terhadap sejumlah klaster baru yang berpotensi bisa memperbanyak jumlah kasus positif.

Salah satu yang ditelusuri intensif adalah klaster pasar di Bojonegoro. Sudah ada 74 orang yang dinyatakan reaktif. Mereka sudah menjalani tes swab. Sambil menunggu hasil, mereka menjalani isolasi.

Ketua GTPP Covid-19 Jatim Rumpun Kuratif dr Joni Wahyuhadi menjelaskan, tracing berawal dari pasien yang dinyatakan positif. Dari pasien tersebut, tim tracing menemukan siapa saja yang kali terakhir kontak erat dengan pasien. Biasanya adalah keluarga atau rekan kerja. ’’Penelusuran terus berjalan,’’ ucapnya.

Pantauan terhadap klaster memang jadi salah satu prioritas. Sebab, dari 1.534 pasien positif Covid-19, 592 orang atau sepertiganya berasal dari 57 klaster di Jatim.

Sisanya masih dicari dari mana mereka tertular. Karena itu, jumlah klaster di Jatim sangat mungkin berkembang. ”Social distancing dan physical distancing menjadi cara utama mencegah perkembangan klaster tersebut,” katanya. (riq/c20/ris)

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=UszCDXFPpSo

https://www.youtube.com/watch?v=tMVEV5BGD4A

https://www.youtube.com/watch?v=RpIftLg3XD4

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore