Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Juli 2023 | 20.55 WIB

Megawati di Kebun Raya Mangrove Surabaya: Siapa Tahu di Sini Ada Mikroba yang Bisa Jadi Obat Kanker

KOMITMEN KONSERVASI: Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia Megawati Soekarnoputri dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di jogging track yang menjadi salah satu fasilitas di Kebun Raya Mangrove Surabaya. - Image

KOMITMEN KONSERVASI: Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia Megawati Soekarnoputri dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di jogging track yang menjadi salah satu fasilitas di Kebun Raya Mangrove Surabaya.

JawaPos.com – Semua berawal dari cemara udang. Megawati Soekarnoputri menyarankan tanaman tersebut dijadikan sebagai peneduh Kenjeran, kawasan pantai di Surabaya. Ide beberapa tahun lalu itu berbiak hingga ke sepanjang kawasan pantai timur di ibu kota Jawa Timur.

Salah satunya berwujud kebun raya mangrove (KRM) di Gunung Anyar, Surabaya, yang kemarin (26/7) diresmikan presiden ke-5 Indonesia itu bertepatan dengan Hari Mangrove Internasional. Inilah kebun raya ke-45 di Indonesia, tapi satu-satunya yang bertema mangrove alias bakau.

Selaku ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia, Megawati mengaku siap menggelontorkan Rp 2 miliar untuk pengembangan KRM Surabaya. Asalkan, Pemerintah Kota Surabaya memiliki komitmen untuk menambah koleksi pohon serta terus mengembangkan KRM.

’’Jadi, harus gotong royong, spesies mangrove ada 100-an ya, di sini baru separonya (57 spesies),” ujarnya.

KRM berdiri di lahan seluas 34 hektare, dengan jumlah total sebanyak 265.000 pohon. ’’Termasuk di dalamnya 57 jenis tanaman mangrove,’’ kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang mendampingi Megawati.

KRM Surabaya dilengkapi beberapa fasilitas seperti lahan pembibitan, auditorium, toko suvenir, sentra wisata kuliner, dermaga, menara pantau, dan sepeda air. Megawati juga sempat meninjau langsung sejumlah fasilitas tersebut.

Di antaranya, menjajaki jogging track. Serta, menelisik informasi melalui barcode scanner tak jauh dari salah satu jenis pohon bakau. Juga, berinteraksi dengan finalis Putri dan Pangeran Lingkungan Hidup Kota Surabaya.

Perempuan 76 tahun itu menaruh harapan besar terhadap perkembangan KRM ke depan. Sebab, bakau mampu menyerap polutan udara dan menghasilkan oksigen. Manfaatnya, turut memperkuat keanekaragaman hayati kawasan serta memperkaya hasil biota laut.

’’Ini juga kaitannya dengan stunting. Pengentasan stunting itu salah satunya harus bebas dari polusi dan udara kotor,’’ jelasnya.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyebutkan, pihaknya secara tak langsung telah mengidentifikasi 57 spesies mangrove. ’’Sebanyak 17 di antaranya telah teregister secara resmi,” katanya.

BRIN berkomitmen penuh atas pendampingan dan segala pengembangan kebun raya di Indonesia. Sebab, sebagai pusat konservasi, kebun raya tentunya memiliki keanekaragaman hayati yang bisa dikembangkan secara menyeluruh.

’’Bisa untuk pangan, obat juga, siapa tahu di sini ada mikroba yang bisa jadi obat kanker, seperti temuan kami di pantai utara Jakarta,’’ jelasnya.

Eri menambahkan, konservasi KRM akan terus dikembangkan. Termasuk melibatkan masyarakat dalam kategori miskin. Hasil keuntungannya juga akan diperuntukkan warga miskin.

’’Melalui padat karya, warga miskin kami libatkan untuk pengembangan ini. Misalnya, pembibitan dan pengelolaan wahana rekreasi,’’ jelasnya.

Megawati juga menyerahkan cenderamata mangrove jenis heritiera littoralis atau dungun kecil alias dungun laut kepada Eri. Otomatis koleksi KRM Surabaya pun bertambah menjadi 58 spesies. (zam/c7/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore