Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 18.02 WIB

Misano Jadi Panggung Regenerasi Rider Spanyol, Unggul Struktur Pembinaan dan Biaya

Dominasi rider Spanyol di Misano menunjukkan kuatnya sistem pembinaan pembalap muda. Delapan dari sembilan posisi tiga besar berasal dari Spanyol. (Instagram/@37pedroacosta) - Image

Dominasi rider Spanyol di Misano menunjukkan kuatnya sistem pembinaan pembalap muda. Delapan dari sembilan posisi tiga besar berasal dari Spanyol. (Instagram/@37pedroacosta)

JawaPos.com – Sirkuit Misano yang berada di kawasan Emilia-Romagna menjadi balapan kandang bagi sejumlah pembalap Italia, seperti Marco Bezzecchi, Francesco Bagnaia, atau Fabio Di Giannantonio. Namun, GP San Marino, Minggu (13/9) akhir pekan lalu, justru menjadi ‘panggung’ dominasi para rider Spanyol.

Enam pembalap Spanyol mengisi enam posisi teratas MotoGP musim ini. Marc Marquez menjadi juara, diikuti Alex Marquez dan Pedro Acosta. Tiga rider Negeri Matador, Fermin Aldeguer, Jorge Martin, serta Raul Fernandez melengkapi enam besar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kelas premier, enam pembalap dari negara yang sama menguasai enam posisi teratas.

Dominasi tersebut tidak berhenti di kelas utama. Manu Gonzalez memenangkan balapan Moto2, sedangkan Maximo Quiles menjadi pemenang Moto3. Itu menjadi kemenangan triplete Spanyol ke-50 dalam sejarah Kejuaraan Dunia.

Regenerasi Berjalan

Hasil di Misano memperlihatkan suksesnya regenerasi pembalap Spanyol. Marc (33) dan Alex Marquez (30), serta Jorge Martin (28), sudah lebih dulu muncul di barisan depan MotoGP. Di belakang mereka, sudah ‘mengantre’ Acosta (22), Aldeguer (21), dan Raul Fernandez (25).

Sementara itu, Gonzalez (24) dan Quiles (18) berpotensi menyusul dari kelas Moto2 dan Moto3. Pembalap Honda HRC asal Italia, Luca Marini, melihat situasi tersebut tidak lepas dari sistem pembinaan di Spanyol.

“Di Spanyol ada banyak struktur yang membantu anak-anak berkembang dengan cepat dan baik. Federasi Italia juga melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi balapan di Italia benar-benar mahal,” kata Marini dikutip dari GPOne.

“Dengan kondisi ekonomi saat ini, tidak mudah bagi sebuah keluarga menanggung semua biaya yang diperlukan untuk membawa seorang anak sampai ke Kejuaraan Dunia. Dari sisi ini, Spanyol sangat terorganisasi dengan baik, dan berhasil membina banyak pembalap muda.”

Fondasi Sejak 1990-an

Sementara itu, Jorge Martínez “Aspar” menilai dominasi pembalap Spanyol bukan kebetulan. Mantan pembalap sekaligus pemilik tim Aspar yang kini menaungi Quiles di Moto3 itu menyebut, fondasinya sudah dibangun sejak 1990-an.

“Angel Nieto adalah pelopor. Dia yang memulai dan memberikan bahan bakar agar semua ini berjalan,” kata Aspar kepada Cadena SER. “Setelah itu, saya kira pada 1992, ketika Dorna mengambil alih hak komersial Kejuaraan Dunia, lahirlah era baru motociclismo (balap motor).”

Sejak saat itu, pembinaan pembalap muda di Spanyol terus berkembang.

Editor: Hendra
Sumber: Jawa Pos Koran
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore