
Veda Ega Pratama merayakan podium ketiga Moto3 Brasil 2026, torehan sejarah baru bagi Indonesia di ajang Grand Prix. (Instagram @veda_54)
JawaPos.com — Debut sensasional langsung dibayar mahal dengan sejarah. Veda Ega Pratama membuktikan dirinya bukan sekadar pendatang baru setelah sukses meraih podium ketiga di Moto3 Brasil 2026.
Minggu malam WIB (22/3/2026) menjadi momen yang tak akan dilupakan.
Di Autodromo Internacional Ayrton Senna, pembalap muda Indonesia itu menorehkan tinta emas sebagai rider Tanah Air pertama yang naik podium Grand Prix.
Perjalanan menuju titik ini bukan kisah instan. Sejak uji coba pramusim Moto3 di Jerez, nama Veda mulai mencuri perhatian meski awalnya belum sepenuhnya dominan.
Dalam tes tersebut, Veda memang hanya finis di posisi ke-17. Namun selisih waktu yang terus menipis menunjukkan potensi besar yang perlahan mulai matang di tengah tekanan kompetisi dunia.
Nama rival seperti Brian Uriarte bukan hal asing bagi Veda. Keduanya sudah saling sikut sejak Red Bull Rookies Cup 2025, dengan duel panas yang membentuk mental bertarung pembalap Indonesia itu.
Di Jerez, Veda berhasil membalas kekalahan dari Uriarte. Selisih tipis sepersepuluh detik menjadi bukti dirinya bukan lagi sekadar pesaing, tapi ancaman nyata.
Ledakan performa justru terjadi saat debut Grand Prix di Buriram. Tanpa banyak basa-basi, Veda langsung melesat ke Q2 dan menempati posisi kelima di sesi kualifikasi pertamanya.
Ia bahkan berada di antara nama besar seperti Maximo Quiles dan David Munoz. Selisih waktu hanya 0,7 detik dari posisi terdepan, sebuah capaian luar biasa untuk rookie berusia 17 tahun.
Balapan di Thailand menjadi panggung pembuktian berikutnya. Veda tampil agresif sejak awal dan sempat merebut posisi ketiga pada lap keenam.
Namun tekanan dari rombongan pembalap seperti Adrian Fernandez hingga Valentin Perrone membuat persaingan makin brutal. Kesalahan kecil di pertengahan lomba sempat meredupkan peluang podium.
Meski begitu, mental baja Veda berbicara. Ia kembali menyerang, menyalip lawan, dan akhirnya finis kelima dalam debutnya—bahkan mengungguli Uriarte.
Lap tercepatnya hanya terpaut 0,104 detik dari yang terbaik. Catatan itu menegaskan satu hal: Veda bukan sekadar ikut meramaikan grid, tapi benar-benar kompetitif.
