Megawati Hangestri moncer bersama Red Sparks. (Media Red Sparks)
JawaPos.com – Ini bukan sekadar final liga voli. Ini adalah drama besar, dan siapa pun yang menang di partai penentu V-League antara Heungkuk Pink Spiders dan Red Sparks malam ini, Selasa (8/4), akan jadi tokoh utama dalam cerita yang akan dikenang puluhan tahun ke depan.
Di satu sisi ada Kim Yeon-koung, ikon terbesar bola voli Korea yang berencana pensiun setelah musim ini. Laga di Incheon malam ini bisa menjadi penutup sempurna kariernya—atau justru akhir pahit yang tak pernah ia bayangkan.
Kim Yeon-koung sudah menyatakan bahwa musim ini adalah musim terakhirnya sebagai pemain profesional.
Setelah tiga kali masuk final sejak kembali ke V-League pada musim 2020–2021, ia belum sekali pun berhasil mengangkat trofi juara.
Mimpi besarnya adalah menutup lembaran karier panjangnya dengan piala di tangan, di depan ribuan fans yang memujanya.
Namun mimpi itu sedang dihadang keras oleh tim penuh luka namun bermental baja—Red Sparks. Tim yang dipimpin pelatih Koh Hee-jin ini awalnya terlihat seperti pemeran pendukung dalam cerita pensiun Kim.
Tapi sejak kalah di dua gim awal, Red Sparks menjelma menjadi lawan yang tak bisa diremehkan. Mereka menyapu bersih laga ketiga dan keempat di kandang, dan kini memaksa pertandingan berlanjut ke gim kelima, partai hidup-mati.
Yang membuat perjuangan Red Sparks begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa hampir seluruh pilar utama mereka sedang berjuang melawan cedera.
Setter senior Yeom Hye-seon bermain sambil menahan nyeri di lutut, sang libero No Ran sempat absen karena cedera punggung, sementara dua mesin poin mereka—Megawati Hangestri dan Vanya Bukiric—terus tampil meski jelas terlihat kelelahan dan kesakitan.
“Awalnya kami dianggap antagonis dalam cerita Kim Yeon-koung. Tapi kini, kami merasa mungkin kami juga layak jadi pemeran utama,” kata Yeom Hye-seon setelah Red Sparks menang di gim keempat.
Megawati, pemain asal Jember berusia 25 tahun, tampil gemilang sepanjang musim. Bukan hanya menjadi top scorer di musim reguler dan babak playoff, ia juga menjadi simbol semangat Red Sparks.
Serangan kerasnya, pertahanan gigihnya, dan keberaniannya saat tim dalam tekanan menjadi inspirasi tak hanya di Korea, tapi juga di negara asalnya, Indonesia.
Kisah malam ini di Samsan World Gymnasium tak bisa berakhir dengan hasil netral. Siapa pun yang menang akan mengukir sejarah. Jika Heungkuk Pink Spiders menang, maka Kim Yeon-koung akhirnya mendapat akhir cerita yang bahagia, penuh air mata haru dan mungkin parade kemenangan.
Tapi jika Red Sparks menang, maka sejarah akan mencatat bahwa di musim terakhir Kim, justru pemain muda Asia Tenggara bernama Megawati-lah yang mencuri sorotan dan mengubah skenario. Seorang pemain dari Jember—yang bermain dengan hati dan semangat tak kenal lelah—menjadi tokoh utama yang tak terduga.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
