alexametrics

Lintasan Sejarah Kiprah Tionghoa di Persebaya

27 Januari 2017, 12:43:41 WIB

JawaPos.com- Goresan jejak sejarah para pemain sepak bola Tionghoa itu diawali dari terbentuknya POR Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya pada 1908. Itulah yang kemudian berubah nama menjadi Naga Kuning pada 1959. Namanya lantas menjadi Suryanaga pada 1966.

Perkumpulan olahraga yang didirikan warga Tionghoa tersebut awalnya hanya punya dua cabang. Yakni, senam dan anggar. Tetapi, mereka kemudian melirik cabang-cabang lain. Termasuk bal-balan.

Dalam buku Peringatan 100 Tahun POR Suryanaga tertulis bahwa bond (istilah saat itu untuk menyebut Persatuan Sepak Bola) Tionghoa Surabaya berdiri pada 1914. Pendirinya adalah Oei Kwie Liem. Dengan banyaknya anggota di awal berdirinya, Bond Tionghoa Surabaya sudah berlatih intensif di Lapangan Quick. Kini lapangan itu masuk areal Stasiun Pasar Turi.

R.N. Bayu Aji, penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola, mengungkapkan bahwa saat itu banyak anggota bond tersebut yang enggak mengerti cara bermain bola yang benar. Yang penting main. Yang penting bola disepak-sepak sampai nyemplung ke gawang lawan. ’’Belum menguasai teknik permainan serta mutu pertandingan yang baik,’’ kata Bayu.

Problem pun datang silih berganti. Salah satunya, Lapangan Quick sudah diincar untuk dibangun sebagai stasiun kereta api. Walau begitu, semangat agar diakui badan sepak bola kala itu, Soerabajasche Voetbal Bond (SVB), sangat tinggi. ’’Kejuaraan antarklub Tionghoa diadakan untuk pengakuan itu. Biar Tionghoa Surabaya masuk dalam anggota SVB,’’ jelas pria yang kerap dipanggil Rojil tersebut.

Akhirnya, pada 1919 Tionghoa Surabaya diakui sebagai anggota oleh SVB. Mereka ikut berkompetisi di SVB. Kiprah mereka cukup diperhitungkan. Bahkan, dalam kurun tiga tahun setelah bergabung, Tionghoa Surabaya sudah berhasil menembus final dalam tiga kelas sekaligus. ’’Pendanaan, pengelolaan, serta infrastruktur yang baik membuat Tionghoa Surabaya jadi salah satu bond yang diperhitungkan di SVB,’’ ujar Rojil.

Akhirnya, prestasi Tionghoa Surabaya kian bersinar setelah pindah ke Lapangan Canalaan yang kini menjadi Taman Remaja Surabaya. Mereka ikut membentuk kepengurusan panitia yang mengadakan pertandingan sepak bola antar-bond milik masyarakat Tionghoa di Indonesia. Namanya Comitee Kampioenswedstrijden Tionghoa (CKTH). Setiap tahun kepengurusan itu menyelenggarakan pertandingan sepak bola.

Menurut Rojil, CKTH akhirnya berubah nama menjadi Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) pada 1929. Badan tersebut langsung mendatangkan tim kesebelasan tangguh dari Hongkong bernama Loh Hwa dan Nan Hua.

Walau masih terhitung muda, Bond Tionghoa Surabaya sudah punya keunggulan jika dibandingkan dengan bond lainnya. Yakni, pembinaan pemain muda. Penulis kelahiran 2 Mei 1985 itu menyatakan bahwa Tionghoa Surabaya sudah punya pembibitan pemain muda. Setiap bertanding, anak-anak muda diberi kesempatan untuk bermain. ’’Regenerasinya sangat baik, jadi tidak kehabisan stok pemain bagus,’’ jelasnya.

Puncaknya, pada 1938, memanfaatkan perselisihan antara NIVB (Perkumpulan Persepakbolaan Belanda) dan PSSI, pemain dari bond Tionghoa kecipratan keberuntungan untuk ikut dalam rombongan tim Dutch East Indies atau Hindia Belanda ke Piala Dunia di Prancis. Dua pemain Surabaya ikut dalam rombongan tersebut. Yaitu, Tan Hong Djien dan Tan Mo Hen. ’’Tim pertama Asia yang ikut Piala Dunia. Sayang, satu kali bertanding sudah pulang. Waktu lawan Hungaria, kalah 6-0,’’ ungkap alumnus Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga tersebut.

Setelah itu, berangsur-angsur pemain-pemain Tionghoa Surabaya menjadi bintang. Puncaknya, Tionghoa Surabaya berhasil merebut treble winners pada 1939. Bond itu berhasil menjadi juara SVB, HNVB, dan Java Club Kampioen. ’’Banyak pemain yang dilirik tim sepak bola saat itu, termasuk Persebaya,’’ terangnya.

Selanjutnya, beberapa pemain Tionghoa Surabaya ditarik ke Persebaya. Sebut saja Tee San Liong, Liem Tiong Hoo, Bhe Ing Hien, hingga Januar Pribadi. Bersama seluruh pemain, mereka membuat Persebaya menjadi tim yang disegani pada 1931–1973.

Tiga kali juara perserikatan direbut, yakni pada 1941, 1951, dan 1952. Untuk runner-up, Persebaya sudah empat kali. ’’PSSI sering manggil pemain-pemain Persebaya. Januar Pribadi, contohe, sudah memperkuat PSSI di Asian Games II Manila,’’ papar lelaki yang kini mengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut.

Menginjak era 80-an, kiprah para pemain berdarah Tionghoa itu meredup. Rojil tidak memastikan penyebabnya. Yang jelas, banyak warga Tionghoa yang memilih olahraga dalam ruangan. Misalnya, bulu tangkis.

Menurut Ketua Umum POR Suryanaga Yacob Rusdianto, kondisi Indonesia era 80-an membuat warga Tionghoa memilih olahraga yang menghindari kontak fisik. Dikhawatirkan, kalau ada gesekan di olahraga fisik, warga Tionghoa menjadi sasaran kerusuhan. Kala itu situasi memang begitu. Sentimen terhadap orang Tionghoa cukup tinggi. ’’Lebih memilih olahraga yang ada pembatasnya, bulu tangkis, tenis meja, atau olahraga perorangan,’’ jelasnya. Terakhir, tercatat hanya Suwito ’’Ahong’’ yang menjadi satu-satunya pemain Tionghoa bersama Persebaya pada 2002.

Itulah imbas PS Suryanaga yang masih masuk kategori amatir. Dana yang hanya berasal dari pemain binaan membuat Suryanaga sulit berprestasi lagi. Mereka lebih banyak menjadi supplier klub sepak bola besar daripada mengejar prestasi seperti dulu. ’’Hanya bisa jadi klub internal, tidak bisa ikut liga. Jadi, tidak bisa profesional. Sponsor susah datang,’’ ungkap pria yang menjabat Sekjen PBSI Pusat pada 2008–2012 tersebut. Andik Vermansah adalah salah satu contoh pemain lulusan Suryanaga yang akhirnya berkiprah di kancah global.

Tetapi, ada satu hal yang selalu diingat Yacob tatkala masih sering bertemu dengan Januar Pribadi dulu. Semangat nasionalisme pemain sepak bola Tionghoa patut diacungi jempol. Walau kerap dianggap bukan pribumi asli, mereka rela berjuang mati-matian di atas lapangan hijau demi Garuda di dada. ’’Jangan tanya nasionalisme mereka. Mereka bermain untuk timnas ya penuh kebanggaan. Mati-matian mengejar prestasi demi Indonesia,’’ tegasnya. (Farid S. Maulana/c14/dos)

Editor : Miftakhul F.S

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads
Lintasan Sejarah Kiprah Tionghoa di Persebaya