Peristiwa Arapagani jadi memori mengharukan bagi suporter Persebaya Surabaya Bonek. (Intagram @kitabonek)
JawaPos.com — Suporter Persebaya Surabaya, Bonek, kembali mengenang peristiwa kelam 13 tahun lalu yang terjadi pada 3 Juni 2012 silam. Tragedi yang dikenal sebagai Arapagani (Arogansi Aparat Tiga Juni) itu hingga kini masih menyisakan luka mendalam di hati para pendukung setia Green Force.
Hari ini, media sosial diramaikan dengan unggahan dan doa dari ribuan Bonek di seluruh dunia. Mereka bersatu dalam satu suara: menolak lupa atas tragedi yang pernah merenggut nyawa sesama saudara tribun.
Akun Instagram @kitabonek menjadi salah satu yang menyuarakan kenangan pedih tersebut.
Dalam unggahannya, mereka menulis dengan nada emosional tentang bagaimana aparat yang seharusnya mengayomi, justru bertindak brutal di luar kendali.
Tragedi yang terjadi pada 3 Juni 2012 itu menyisakan luka yang tak sembuh hingga kini. Kala itu, suasana mendadak mencekam ketika aparat melakukan tindakan represif terhadap massa suporter yang tengah berkumpul.
Banyak anak-anak dan perempuan berlarian mencari tempat berlindung dalam kekacauan. Tak sedikit yang jatuh pingsan, mengalami sesak napas, dan matanya perih akibat gas air mata.
Salah satu korban yang meninggal dunia dalam tragedi itu adalah Purwo Adi Utomo, seorang Bonek sejati. Hingga kini, namanya terus disebut dan didoakan setiap tahunnya oleh keluarga besar Bonek.
"Al-Fatihah untuk Alm Purwo Adi Utomo," tulis akun @kitabonek disertai emotikon tangan berdoa. Unggahan itu dibanjiri komentar penuh haru dari para Bonek yang tak pernah lupa akan kejadian tersebut.
“Menolak keras untuk lupa,” tulis salah satu Bonek yang meninggalkan komentarnya. “Cukup dikenang, tidak untuk diulang,” sambung komentar lainnya.
Mereka menegaskan sepak bola tidak seharusnya dibayar dengan nyawa manusia. Kekerasan yang terjadi saat itu dianggap sebagai pelanggaran kemanusiaan yang tidak boleh terulang.
Memori menolak lupa atas tragedi Arapagani kembali digaungkan di jagat maya hari ini. Para Bonek berikrar untuk terus mengingat tragedi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sesama korban.
Mereka juga menyampaikan harapan agar pelaku kekerasan saat itu diberi kesadaran dan tidak mewariskan kekerasan kepada generasi berikutnya.
“Semoga hidupnya dimudahkan, rezekinya dilimpahkan, dan keluarganya dijauhkan dari kekerasan,” tulis akun @kitabonek dalam doa terbuka.
Meski penuh luka, Bonek menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi tragedi tersebut. Mereka memilih mengenang dengan doa, bukan dengan dendam atau kekacauan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
