
LEGENDA: Potret muda Andi Ramang legenda PSM Makassar. (Ravando/Olympedia.org)
JawaPos.com — Sepak bola Indonesia memiliki sejarah yang kaya dengan tokoh-tokoh legendaris yang telah meninggalkan jejak mendalam dalam dunia olahraga.
Salah satu di antaranya adalah Andi Ramang, pemain legenda PSM Makassar yang diakui oleh FIFA karena kemampuannya yang luar biasa. Namun, di balik gemerlap karier sepak bolanya, terdapat kisah hidup yang penuh liku dan akhir tragis yang mengharukan.
Lahir di Barru, Provinsi Sulawesi Selatan, pada 24 April 1924, Andi Ramang menemukan panggilan sepak bola sejak masa kecilnya. Seperti banyak anak muda lainnya, dia sering berlatih dengan penuh semangat di lapangan-lapangan terbuka, membentuk pondasi yang kuat untuk karier masa depannya.
Namun, nasib baik tampaknya berpihak padanya ketika pemandu bakat PSM Makassar memperhatikan bakatnya yang mengkilap saat dia sedang bermain tarkam (tarung kampung) pada 1947.
Sebelum bergabung dengan PSM Makassar, Andi Ramang telah mencicipi atmosfer sepak bola profesional dengan bermain untuk Persis Solo selama dua tahun. Namanya semakin dikenal di kancah sepak bola nasional ketika dia menjadi bagian dari trio penyerang mematikan bersama Suwardi Arlan dan Nursalam, membentuk jajaran serangan yang menakutkan bagi lawan-lawannya.
Keberhasilan trio tersebut turut mengantar Persis Solo meraih gelar kejuaraan nasional PSSI, Perserikatan, pada 1957 dan 1959, dengan Andi Ramang menyumbangkan kontribusi besar dengan mencetak sejumlah gol yang mengesankan.
Namun, keberhasilan sejati Andi Ramang tidak hanya tercermin dalam prestasi klubnya saja, tetapi juga dalam panggilan untuk membela timnas Indonesia. Kehebatannya tidak luput dari pengamatan FIFA yang mengakui bakatnya sebagai seorang pemain yang luar biasa. Episode khusus dalam seri "Sons of Football" diproduksi oleh FIFA untuk mengabadikan perjalanan karier gemilang Andi Ramang, memberinya judul yang pantas: "Ramang - The Man, The Myth, The Legend".
Dalam episode tersebut, kemampuan unggul Andi Ramang, terutama dalam pertandingan melawan Uni Soviet pada Olimpiade 1956, menjadi sorotan utama.
Peran Andi Ramang dalam pertandingan melawan Uni Soviet tidak bisa dipandang remeh. Laga tersebut bahkan harus diulang karena lini pertahanan Uni Soviet tidak mampu menahan gempuran serangan yang dipimpin oleh Andi Ramang. Namun, strategi khusus yang digunakan oleh Uni Soviet pada pertandingan kedua berhasil memadamkan keganasan serangan Indonesia, dengan hasil akhir yang tidak menguntungkan bagi timnas Indonesia.
Meskipun demikian, penampilan gemilang Andi Ramang dalam laga pertama tersebut akan selalu dikenang sebagai salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Tidak hanya di level internasional, Andi Ramang juga hampir membawa timnas Indonesia ke Piala Dunia 1958. Dengan mencetak dua gol dalam pertandingan melawan Tiongkok, Andi Ramang hampir memastikan tiket bagi timnas Indonesia untuk tampil di panggung Piala Dunia. Namun, nasib berkata lain karena permasalahan politik yang memaksa Indonesia mundur dari kualifikasi, mengakhiri impian tersebut.
Meskipun karier sepak bola Andi Ramang bersinar terang, namun hidupnya setelah pensiun dari lapangan tidak semulus yang dibayangkan. Tersandung kasus suap pada 1960, Andi Ramang harus menerima hukuman larangan bermain selama dua tahun, yang tentu saja memberikan pukulan telak bagi karier dan reputasinya.
Setelah menjalani hukuman, kemampuannya mulai memudar seiring bertambahnya usia, dan dia terpaksa beralih profesi untuk mencari nafkah.
Kisah hidup Andi Ramang setelah pensiun sebagai pemain sepak bola menghadapi tantangan berat. Dari menjadi kenek truk hingga tukang becak, Andi Ramang harus rela mengorbankan martabatnya demi menyambung hidup. Bahkan, ketika mencoba peruntungan sebagai pelatih sepak bola, dia terhambat oleh ketidakmampuannya untuk memperoleh sertifikat resmi, membatasi kemungkinannya untuk berkembang di dunia sepak bola.
Namun, yang paling menyakitkan bagi Andi Ramang adalah perasaannya tidak dihargai oleh negaranya sendiri. Meskipun telah memberikan kontribusi besar dalam dunia olahraga Indonesia, dia merasa seperti terlupakan dan tidak dihargai sepenuhnya. Hal ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak olahragawan Indonesia pada masa itu, di mana apresiasi dan dukungan terhadap mereka masih belum sepenuhnya diberikan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022