Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 November 2024 | 00.31 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Timnas Indonesia saat Lawan Jepang? Begini Analisisnya

Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dalam konferensi pers pralaga melawan Jepang. (Dimas Ramadhan/JawaPos.com) - Image

Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dalam konferensi pers pralaga melawan Jepang. (Dimas Ramadhan/JawaPos.com)

JawaPos.com-Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong akan beradu taktik dengan pelatih timnas Jepang Hajime Moriyasu. Kebetulan kedua pelatih dari Asia Timur itu sama-sama mengandalkan pakem formasi tiga bek.

Jika Shin sudah mengandalkan formasi tiga bek sejak lama, maka Moriyasu baru mencobanya dalam enam pertandingan terakhir mereka. Kabar buruknya bagi Indonesia, enam pertandingan terakhir itu disapu bersih oleh Jepang dengan kemenangan.

Formasi itu membuat Samurai Biru tampil lebih stabil baik dalam transisi positif saat menyerang atau transisi negatif saat bertahan. Hasilnya, 25 gol berhasil mereka ciptakan dan hanya kebobolan satu gol, itu pun melalui gol bunuh diri dari Shogo Taniguchi.

Moriyasu menggunakan pakem baru untuk Jepang ini setelah ia menemukan celah yang mudah ditembus lawan selama di Piala Asia 2023. Di pentas sepak bola terbesar Asia itu, Jepang yang masih menggunakan formasi empat bek menelan dua kekalahan dari lima pertandingan.

Sebanyak 12 gol mereka ciptakan dan kebobolan sebanyak tujuh kali. Bahkan, melawan Vietnam, tim yang dikalahkan Indonesia tiga kali dengan catatan clean sheets pada tahun ini, berhasil membobol gawang Zion Suzuki sebanyak dua kali.

Kita semua tahu Jepang merupakan tim elite Asia dan langganan bermain Piala Dunia. Namun, bukan berarti itu membuat mereka tanpa celah, termasuk saat mereka hampir tampil sempurna dengan tiga bek dari enam pertandingan terakhir.

Indonesia harus bisa menemukan celah kecil dari Jepang dan karena mereka kemungkinan besar akan menguasai pertandingan, satu cara yang bisa dimanfaatkan adalah "menyakiti" mereka dengan serangan balik.

Skuad Garuda dapat mengincar area kelebaran dalam serangan balik untuk mengincar kelemahan formasi tiga bek yang biasanya, dua wing back telat turun karena asik menyerang.

Dan dalam situasi ini, pemanggilan Sayuri bersaudara, Yakob dan Yance, mungkin adalah tujuannya. Dua pemain itu handal menyisir sisi kanan dan kiri karena bertipe pelari atau mempunyai kecepatan yang bagus.

Bola-bola yang dimenangkan Thom Haye di tengan atau Jay Idzes di belakang dapat diarahkan ke ruang kosong di belakang bek terakhir Jepang untuk memanfaatkan keunggulan "pelari-pelari" di timnas.

Mengutip kata-kata Jose Mourinho dimana sebuah tim yang menguasai bola lebih rentan membuat kesalahan, hal itu bisa diterapkan oleh Indonesia. Jepang yang jago dalam build-up atau membangun serangan dari belakang harus tanpa dikasih ruang.

Indonesia harus berani melakukan pressing agresif untuk mencegah build-up Jepang yang membutuhkan ruang untuk bergerak dan passing.

Jika berhasil, situasi ini akan memaksa Jepang memainkan bola-bola panjang. Di sini, peluang Indonesia untuk memenangkan bola besar karena mereka memiliki bek-bek tinggi seperti Jay Idzes, Rizky Ridho, dan Kevin Diks.

Pressing yang dilakukan juga dapat membuat mereka tak mampu mengalirkan bola ke depan dan memaksa mereka berputar-putar di area yang tidak berbahaya. Pressing Indonesia harus bergerak kompak untuk mematikan lini tengah Jepang yang kemungkinan akan dipimpin sang kapten Jepang yang bermain di Liverpool, Wataru Endo.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore