Simbol kebesaran Timnas Jepang, Yatagarasu, mitologi berupa burung gagak berkaki tiga. (soundcloud)
Jika bicara persiapan kedua tim, baik Indonesia maupun Jepang pastinya telah pasang siasat untuk memenangi duel tersebut. Shin Tae-yong selaku pelatih kepala Timnas Indonesia diyakini akan memberikan segalanya untuk merebut tiga angka di depan fans Garuda, tak terkecuali Hajime Moriyasu bersama skuad Samurai Biru.
Namun, bagaimana sisi lain di luar strategi yang bakal menghebohkan SUGBK? Kita coba membedah lambang kebesaran yang melekat di setiap jersey Timnas Jepang, yakni Yatagarasu.
Lambang atau lambang Timnas Jepang ini diadopsi pada akhir 2017 sebagai bagian dari perubahan citra yang lebih besar oleh Asosiasi Sepak Bola Jepang. Lambang tersebut menampilkan Yatagarasu, burung gagak berkaki tiga dari mitologi Jepang yang merupakan simbol matahari. Yatagarasu memegang bola merah pekat yang menyerupai matahari dari bendera nasional.
Garis merah juga terdapat di bagian tengah perisai di belakang burung gagak. Perisai tersebut memiliki pinggiran emas metalik dan memiliki garis luar hitam yang lebih tebal. Nama negara yang diwakili oleh tim nasional ‘Jepang’ juga tertulis di dalam batas hitam.
Lambang sebelumnya yang digunakan sejak 1996 memiliki perisai dengan bentuk yang lebih rumit. Bola yang dipegang oleh Yatagarasu memiliki detail berwarna putih. Teks ‘Jepang’ tidak ada dan ‘JFA’ ditulis dengan jenis huruf yang berbeda.
Sebelum 1988, Jepang menggunakan bendera nasional yang diberi garis tepi merah (dan JFA ditulis dengan warna hitam di sudut kiri bawah bendera) pada jersey.
Yatagarasu pertama kali terlihat pada jersey Jepang pada 1988, di mana ia berada pada lingkaran kuning dengan garis tepi biru bertuliskan "JAPAN FOOTBALL ASSOCIATION" di sekelilingnya.
Pada 1991, lambang tersebut berubah menjadi perisai putih dengan garis vertikal merah di bagian tengah dengan burung gagak di atasnya dan tulisan ‘JFA’ dalam jenis huruf Gotik berwarna hijau. Lambang ini digunakan hingga 1996.
Apa itu Yatagarasu?
Yatagarasu adalah burung gagak mistis dan dewa pemandu dalam mitologi Shinto. Ia dikenal karena sosoknya yang berkaki tiga, dan gambarnya telah diwariskan sejak zaman kuno.
Kata tersebut berarti ‘burung gagak berlengan delapan’ dan kemunculan burung besar tersebut ditafsirkan sebagai bukti kehendak Surga atau campur tangan Ilahi dalam urusan manusia.
Yatagarasu sebagai dewa gagak merupakan simbol khusus sebagai bimbingan. Burung gagak besar ini dikirim dari surga oleh Takamimusubi sebagai pemandu bagi Kaisar Jimmu, yang legendaris dalam perjalanan awalnya dari wilayah yang kemudian menjadi Kumano ke wilayah yang kemudian menjadi Yamato (Yoshino dan kemudian Kashihara).
Secara umum diterima bahwa Yatagarasu adalah inkarnasi dari Kamotaketsunumi no Mikoto, tetapi tidak ada catatan dokumenter awal yang masih ada terkait mitologi itu.
Dalam mitologi Jepang, Yatagarasu dikatakan telah menuntun Kaisar Jimmu ke Kashihara di Yamato, dan diyakini sebagai dewa pembimbing. Ia juga diyakini sebagai inkarnasi matahari.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
