DULU DAN SEKARANG: Mamak bersama kapten NIAC Mitra Wayan Diana dengan trofi juara Galatama 1983. Foto kanan, Mamak saat bermain bersama Persija Old Star.
Di sepak bola internasional ada nama Franco Baresi. Dia dikenal karena membela satu klub sepanjang karirnya yakni di AC Milan, Italia. Di Indonesia juga ada yang seperti itu. Namanya Muhammad Zein Alhadad.
Sidiq Prasetyo, Surabaya
DARI muda, rasanya tidak ada yang berubah dari seorang Muhammad Zeil Alhadad. Rambutnya ikal dan panjang. Seperti ketika lelaki yang akrab disapa Mamak ini masih aktif sebagai pesepak bola.
Lelaki kelahiran Surabaya 19 September 1961 itu juga berbeda dengan rekan-rekan seprofesinya. Bagaimana tidak, selama karirnya di lapangan hijau, Mamak hanya membela satu klub.
"Saya ini hanya membela NIAC Mitra dari junior sampai senior. Mulai klub itu berdiri bergabung kompetisi internal Persebaya, kemudian masuk Galatama, hingga NIAC Mitra bubar," kata Mamak.
Bergabungnya Mamak ke Mitra Muda, klub junior milik Mitra yang menjadi cikal bakal NIAC Mitra, dimulai pada 1977. Saat usianya masih 16 tahun. Keputusan yang cukup mengejutkan.
Sebab, sebagai warga keturunan Arab, di lingkungannya tinggal di kawasan Ampel, seharusnya Mamak bergabung dengan Assyabaab.
"Saya diajak pengurus Mitra, Ali Aidit. Saya dinilai punya potensi besar jadi pesepak bola," kenang Mamak.
Ajakan itu tak salah. Mamak mampu menunjukan potensi yang dimiliki. Bahkan, di saat usia yang masih muda, Mamak sudah masuk dalam daftar pemain NIAC Mitra yang berlaga di kompetisi profesional Galatama.
Hanya, kesempatan turun ke lapangan sangat minim. Wajar karena di klub milik A. Wenas tersebut di barisan depan diisi pemain-pemain kenyang pengalaman sekelas Syamsul Arifin dan Djoko Malis.
"Saya ikut membawa NIAC Mitra juara tiga kali yakni Kompetisi 1980/1982 dan 1982/1983 serta 1987/1988. Bahkan bisa disebut sebagai juara tanpa mahkota di musim 1989," ungkap Mamak.
Gelarnya semakin lengkap pada 1987/1988 karena dia dinobatkan juga sebagai pencetak gol terbanyak atau top scorer.
Selain itu, lanjut Mamak, dia pun sukses mengantarkan NIAC Mitra menjuarai turnamen bergengsi Piala Tugu Muda di Kota Semarang, Jawa Tengah, dua kali. Pertama pada 1981 dan berikutnya pada 1987.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
