
IGK Manila saat bersama atlet wushu dari Jatim. Selain pernah menjadi manajer timnas sepak bola, Manila dikenal sebagai Bapak Wushu Indonesia. (IGK Manila untuk Jawa Pos)
JawaPos.com - SEA Games 1991 Manila menjadi momen bersejarah bagi sepak bola Indonesia. Pada tahun tersebut, tim nasional (timnas) sepak bola Indonesia berhasil meraih medali emas setelah mengalahkan Thailand 4-3 lewat babak adu penalti (0-0). Sayangnya, itulah medali emas terakhir hingga saat ini yang bisa diraih timnas dari cabang olahraga SEA Games. Kesuksesan timnas Indonesia tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan IGK Manila yang saat itu menjadi manajer tim. Lalu, bagaimana kabar beliau saat ini? Berikut adalah wawancara Jawa Pos dengan IGK Manila.
---
PAK Manila, bagaimana kabarnya?
Baik, sehat. Umur saya baru 80 tahun lebih 3 bulan. Hahahaha.
Sekarang sibuk apa?
Sekarang saya bergabung dengan Partai Nasdem. Saya menjabat gubernur Akademi Bela Negara. Jadi, fokus saya adalah mendidik para kader.
Apa yang Bapak ajarkan kepada para kader itu?
Saya mendidik kader supaya cerdas. Tidak termakan berita bohong. Apalagi, sebentar lagi pemilu. Suara di TPS harus dijaga. Tapi, saya juga tetap memperhatikan kesehatan pribadi. Setiap hari saya berjemur dan berjalan. Makan teratur. Tidur teratur.
Dari sepak bola, lalu ke politik. Bagaimana ceritanya?
Olahraga yang saya tekuni bukan hanya sepak bola. Ada juga voli, menembak, gulat, dan wushu. Bahkan, saya adalah Bapak Wushu Indonesia. Saya mendirikan PB Wushu pada 1992. Sekarang saya sudah pensiun dari segala jabatan di olahraga. Saya juga sudah pensiun dari TNI. Setelah pensiun, saya berpikir bahwa kita tidak bisa berbuat dan menyuarakan apa-apa jika tidak bergabung dengan partai politik. Makanya, saya pilih bergabung dengan Partai Nasdem. Saya pilih Nasdem karena tanpa mahar.
Apa ada jabatan tertentu yang ingin Pak Manila duduki setelah masuk ke politik?
Tidak. Sejak awal, saya tidak kepikiran untuk itu. Bahkan, saya tidak mau nyaleg. Padahal, dengan background saya yang pernah di Persija Jakarta dan Bandung Raya, tentu banyak orang yang mengenali saya. Tapi, untuk apa? Saya sudah merasa cukup. Anak-anak sudah jadi semua. Cucu saya bahkan sudah S-2. Jadi, saya masuk ke politik untuk mengisi waktu. Mumpung masih diberi waktu oleh Tuhan, saya mau berbagi ilmu dan menuangkan pemikiran. Makanya, saya senang dipercaya menduduki posisi gubernur Akademi Bela Negara Partai Nasdem. Saya diberi posisi itu karena lama bertugas sebagai TNI. Selain itu, saya masuk partai politik agar bisa menyalurkan ide-ide. Meski bukan anggota DPR, saya bisa menyampaikan aspirasi melalui fraksi-fraksi Partai Nasdem.
Apa yang membedakan berkegiatan di olahraga dan politik?
Olahraga harus sportif. Baik harus dibilang baik. Jelek harus dibilang jelek. Kalau di politik, tidak bisa begitu. Kalau di politik, partai kadang bicara ke kanan. Tapi, hati saya berkata ke kiri. Ya, politik memang seperti itu. Tapi, di majelis tinggi, saya bisa mengarahkan partai untuk tidak ke kanan dan ke kiri.
Meski sudah terjun ke politik, apakah Bapak masih mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia?
Tentu. Tapi, kalau untuk main bola, saya sudah tidak kuat. Hahaha. Jadi, saya cukup mengikutinya saja. Menurut saya, perkembangan sepak bola Indonesia sudah bagus. Secara value, sepak bola sudah bisa menjadi mata pencaharian dengan penghasilan besar. Kontrak pemain besar. Bonusnya juga besar. Belum lagi endorse yang nilainya cukup menjanjikan. Tapi, prestasi sepak bola kita belum membanggakan. Saya pernah membawa timnas juara di SEA Games 1991 Manila. Sampai sekarang, prestasi itu belum bisa diikuti. Kalau di level Asia Tenggara belum bisa juara, bagaimana nanti di level Asia? Berat sekali.
Saat itu bagaimana caranya timnas Indonesia bisa meraih medali emas di SEA Games 1991 Manila?
Saya ini tentara. Saya dididik untuk mengenali diri sendiri dan mengenali lawan. Jadi, saya tanamkan itu ke para pemain. Saya tanamkan pikiran bahwa Indonesia lebih kuat daripada semua lawan. Tapi, menanamkan pikiran positif saja tentu tidak cukup. Waktu itu saya menilai fisik para pemain masih terlalu lemah untuk bersaing dengan tim-tim lawan. Makanya, saya gembleng para pemain ala tentara. Mereka saya minta ke gunung untuk berlari. Para pemain harus kuat bermain selama 2 x 45 menit. Bahkan, saat masa perpanjangan waktu, fisik para pemain harus tetap prima.
Sebagai manajer, bagaimana cara Pak Manila membangun rasa emosional dengan para pemain?
Saya memegang Persija, juara. Pegang Bandung Raya, juara. Pegang tim Angkatan Darat, juara. Yang saya lakukan saat itu adalah menjaga metode kepemimpinan dan kedisiplinan. Manajer harus menyatu dengan pemain. Jangan memisahkan diri. Sebab, di Indonesia, para pesepak bola merantau jauh dari keluarganya. Karena itu, manajer harus selalu dekat. Harus mengawasi pemain supaya jangan keluar malam. Manajer juga jangan memberikan contoh yang tidak baik.
Apa pesan Bapak agar sepak bola Indonesia lebih maju lagi?
Jangan selalu mengganti kebijakan. Kita punya banyak kampus yang fokus pada olahraga. Kumpulkan mereka. Duduk bersama untuk membahas bagaimana caranya sepak bola kembali maju. Tanya pakar bagaimana metodenya. Kalau tidak mau berubah, kita tidak akan bisa maju.
KIPRAH IGK MANILA
Nama lengkap: I Gusti Kompyang Manila
Lahir di Singaraja, Bali, pada 8 Juli 1942
Pangkat militer: Mayjen TNI (pur)
PENUGASAN OPERASI DI MILITER
1965 : Operasi penumpasan G 30 S/PKI
1966 : Operasi Dwikora
1967 : Operasi PGRS (Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak)
RIWAYAT JABATAN
1985 : Kapomdam IV/Sriwijaya
1991 : Manajer timnas Indonesia SEA Games Manila
1992 : Ketum PB Wushu Indonesia
1995 : Ketua STPDN
1995 : Sekjen Departemen Penerangan RI
1995 : Manajer Bandung Raya
2001 : Chief de Mission Persija Jakarta
2003 : Manajer Persija
2007 : Ketua BWSI PSSI
2015 : Sekretaris Anggota Wantimpres Jan Darmadi
2017 : Gubernur Akademi Bela Negara Partai Nasdem
SUMBER: WAWANCARA DENGAN IGK MANILA, FOTO: IGK MANILA UNTUK JAWA POS
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022