Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2020 | 02.24 WIB

Setelah Piala Dunia, Bagaimana Nasib Empat Lapangan Penunjang di Bali?

Stadion Kompyang Sujana menjadi salah satu lapangan latihan pendukung Piala Dunia U-20 bakal direvitalisasi bulan depan (dok.radarbali) - Image

Stadion Kompyang Sujana menjadi salah satu lapangan latihan pendukung Piala Dunia U-20 bakal direvitalisasi bulan depan (dok.radarbali)

JawaPos.com-Stadion Kompyang Sujana, Stadion Ngurah Rai, Lapangan Gelora Samudera, Kuta, dan Lapangan Tri Sakti Legian saat ini sedang dalam tahap pembenahan. Empat stadion itu tersebut akan dipakai sebagai lapangan penunjang untuk Piala Dunia U-20 yang berlangsung tahun depan.

Venue utama Piala Dunia U-20 di Bali adalah Stadion Kapten I Wayan Dipta yang merupakan markas Bali United.

Setelah Piala Dunia U-20, hak milik lapangan Gelora Tri Sakti Legian dan lapangan Gelora Samudera Kuta akan dikembalikan ke desa adat masing-masing.

Pengelolanya adalah Desa Adat Kuta dan Desa Adat Legian. Kedua pihak itulah yang akan mengurus lapangan tersebut. Juga menjaga dan merawatnya. Harapannya adalah, setelah renovasi, kedua lapangan itu tidak rusak, tidak terabaikan, dan sangat terawat. Solusi yang paling ideal adalah menyewakan lapangan tersebut.

Dalam pantauan Radar Bali (Jawa Pos Group), sistem sewa sudah diterapkan oleh lapangan Tri Sakti dan lapangan Samudera. Namun, yang menjadi masalah adalah pengelolaan Stadion Kompyang Sujana dan Stadion Ngurah Rai. Sebab, kedua stadion tersebut milik pemerintah.

Stadion Kompyang Sujana milik Pemkot Denpasar dan Stadion Ngurah Rai milik Pemprov Bali dan KONI Bali. Jadi, institusi itulah yang dipercaya untuk melakukan pengelolaan. Biaya yang dikeluarkan pengelola untuk merawat stadion itu jelas tidak kecil. Apalagi, rumput stadion yang sudah sesuai dengan standar FIFA memerlukan perawatan yang khusus.

“Pasti ada jalan keluar untuk perawatan agar maksimal. Setelah Piala Dunia U-20 apakah pengelola dalam hal ini KONI Bali atau pemerintah yang turun tangan untuk perawatan. Ini harus ada jalan keluarnya,” ucap Ketua Umum KONI Bali I Ketut Suwandi kepada Radar Bali.

Dia sadar, perawatan tidak akan mudah. Kendalanya adalah masalah klasik: biaya. Apalagi, sulit sekali untuk menemukan pihak yang mau menyewa Stadion Ngurah Rai.

Biasanya, Stadion Ngurah Rai dipergunakan untuk masyarakat umum dan kegiatan-kegiatan sosial. Jadi, tidak mungkin KONI Bali mematok biaya sewa. “Kalau kami sewakan, hampir tidak mungkin. Geduang (GOR Lila Bhuana) saja hampir tidak ada yang menyewa," katanya.

"Tapi sisi positifnya adalah anak-anak bisa memanfaatkan lapangan dengan sebaik-baiknya untuk menunjang prestasi mereka. Anggap saja revitalisasi ini sebagai stimulus penunjang prestasi anak-anak. Nanti kami pikirkan untuk perawatannya,” ucap Suwandi.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore