
Photo
JawaPos.com – Sejak Persebaya Surabaya kembali ke Liga 1, rivalitas antara Bonek dengan Aremania kembali hidup. Persaingan antarsuporter inilah yang membuat pertandingan Persebaya kontra Arema FC selalu seru, sengit, bahkan 'panas'.
Dahulu, Persebaya adalah representasi Jawa Timur (Jatim). Pendukung Persebaya juga tersebar di pelosok Jatim. Tak terkecuali Malang Raya. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak klub-klub baru muncul.
Salah satunya Arema FC yang lahir pada 1987, atau 60 tahun setelah kemunculan Persebaya. Kemunculan Arema FC tak langsung menjadikan mereka sebagai rival Persebaya. Persaingan itu baru muncul beberapa tahun setelahnya.
Berulang kali kedua tim berjumpa dalam dua dekade terakhir. Namun, dari kacamata JawaPos.com, ada tiga laga yang paling seru, 'panas', serta kontroversial. Tiga laga tersebut tak akan terlupakan. Berikut cerita singkat tiga laga tak terlupakan Persebaya kontra Arema FC.
4 September 2006
Publik mengingat pertandingan ini sebagai tragedi Amuk Suporter Empat September (Asu Semper). Persebaya berjumpa Arema FC di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, pada Copa Indonesia 2006.
Selain menghancurkan kaca-kaca di stadion, suporter Persebaya juga membakar sejumlah mobil di luar stadion. Termasuk mobil satelit milik salah satu televisi swasta di Indonesia. Inilah pertandingan terpanas bagi kedua tim dalam dua dekade terakhir.
21 Februari 2010
Pada saat itu Arema FC menjamu Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Teror sudah diterima skuad Persebaya sejak dalam perjalanan hingga memasuki area stadion. Persebaya harus diangkut menggunakan kendaraan taktis (rantis) saat datang dan pulang dari stadion.
Terlepas faktor di luar lapangan, hasil pertandingan inilah yang menjadi kontroversial. Arema FC menaklukkan Persebaya dengan skor 1-0. Gol kemenangan dicetak Pierre Njanka pada menit ke-90.
Singo Edan mendapatkan hadiah penalti setelah Anderson da Silva dianggap melanggar M Ridhuan di kotak terlarang. Persebaya protes dengan keputusan wasit Olehadi. Mereka menganggap tidak ada sentuhan dari Anderson terhadap Ridhuan.
6 Oktober 2018
Aksi dirigen Aremania, Yuli Sumpil dan salah satu rekannya menjadi bahan perbincangan. Yuli tiba-tiba turun ke lapangan dan mendekati pemain Persebaya yang tengah melakukan pemanasan.
Yuli kemudian membuang berlembar-lembar uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan hanya berkacak pinggang melihat ulah dirigen bertubuh kurus itu.
Tindakan Yuli dikecam oleh pecinta sepak bola di seluruh Indonesia. Sebaliknya, walaupun Persebaya kalah 0-1 dalam laga itu, mereka disambut bak pahlawan ketika pulang ke Surabaya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
