Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 April 2019 | 02.36 WIB

Tiga Laga Berbau Kontroversial Persebaya Kontra Arema FC

Photo - Image

Photo

JawaPos.com – Sejak Persebaya Surabaya kembali ke Liga 1, rivalitas antara Bonek dengan Aremania kembali hidup. Persaingan antarsuporter inilah yang membuat pertandingan Persebaya kontra Arema FC selalu seru, sengit, bahkan 'panas'.

Dahulu, Persebaya adalah representasi Jawa Timur (Jatim). Pendukung Persebaya juga tersebar di pelosok Jatim. Tak terkecuali Malang Raya. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak klub-klub baru muncul.

Salah satunya Arema FC yang lahir pada 1987, atau 60 tahun setelah kemunculan Persebaya. Kemunculan Arema FC tak langsung menjadikan mereka sebagai rival Persebaya. Persaingan itu baru muncul beberapa tahun setelahnya.

Berulang kali kedua tim berjumpa dalam dua dekade terakhir. Namun, dari kacamata JawaPos.com, ada tiga laga yang paling seru, 'panas', serta kontroversial. Tiga laga tersebut tak akan terlupakan. Berikut cerita singkat tiga laga tak terlupakan Persebaya kontra Arema FC.

4 September 2006
Publik mengingat pertandingan ini sebagai tragedi Amuk Suporter Empat September (Asu Semper). Persebaya berjumpa Arema FC di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, pada Copa Indonesia 2006.

Selain menghancurkan kaca-kaca di stadion, suporter Persebaya juga membakar sejumlah mobil di luar stadion. Termasuk mobil satelit milik salah satu televisi swasta di Indonesia. Inilah pertandingan terpanas bagi kedua tim dalam dua dekade terakhir.

21 Februari 2010
Pada saat itu Arema FC menjamu Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Teror sudah diterima skuad Persebaya sejak dalam perjalanan hingga memasuki area stadion. Persebaya harus diangkut menggunakan kendaraan taktis (rantis) saat datang dan pulang dari stadion.

Terlepas faktor di luar lapangan, hasil pertandingan inilah yang menjadi kontroversial. Arema FC menaklukkan Persebaya dengan skor 1-0. Gol kemenangan dicetak Pierre Njanka pada menit ke-90.

Singo Edan mendapatkan hadiah penalti setelah Anderson da Silva dianggap melanggar M Ridhuan di kotak terlarang. Persebaya protes dengan keputusan wasit Olehadi. Mereka menganggap tidak ada sentuhan dari Anderson terhadap Ridhuan.

6 Oktober 2018
Aksi dirigen Aremania, Yuli Sumpil dan salah satu rekannya menjadi bahan perbincangan. Yuli tiba-tiba turun ke lapangan dan mendekati pemain Persebaya yang tengah melakukan pemanasan.

Yuli kemudian membuang berlembar-lembar uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan hanya berkacak pinggang melihat ulah dirigen bertubuh kurus itu.

Tindakan Yuli dikecam oleh pecinta sepak bola di seluruh Indonesia. Sebaliknya, walaupun Persebaya kalah 0-1 dalam laga itu, mereka disambut bak pahlawan ketika pulang ke Surabaya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore