Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 November 2025 | 15.45 WIB

Gempa Regulasi Keuangan Menghantam Liga Inggris, Klub Siap Hadapi Pemungutan Suara Penentu

Liga Inggris akan melakukan pemungutan suara untuk "perombakan signifikan" dua regulasi pada Jumat ini, yakni Aturan Biaya Skuad (SCR) dan Aturan Penahanan Atas-Bawah (TBA). (Dok As)

 

JawaPos.com - Liga Inggris bersiap memasuki salah satu momen paling menentukan dalam sejarah modern kompetisi. Pada Jumat (21/11) ini, para pemegang saham liga akan melakukan pemungutan suara terkait dua regulasi baru yang disebut sebagai “perombakan signifikan”: Squad Cost Rules (SCR) dan Top-to-Bottom Anchoring (TBA).

Keputusan ini berpotensi mengubah cara klub-klub Inggris beroperasi secara finansial, sekaligus menandai berakhirnya aturan lama Profitability and Sustainability Rules (PSR).

Pemungutan suara ini dilakukan setelah proses panjang sejak April 2024, ketika Liga Inggris memutuskan untuk merancang ulang kerangka pengendalian keuangan sebagai langkah menyesuaikan diri dengan arah kebijakan UEFA.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Juni lalu, klub-klub telah menyetujui kebutuhan akan sistem pengawasan finansial alternatif. Agenda Jumat ini menjadi tahap final untuk menentukan apakah dua aturan baru tersebut akan resmi diberlakukan.

SCR merupakan pilar utama dalam usulan regulasi baru. Aturan ini membatasi pengeluaran klub untuk biaya pemain, termasuk transfer, gaji, dan komisi agen hingga maksimal 85 persen dari total pendapatan. Ketentuan ini dirancang untuk menjaga agar klub tidak mengeluarkan belanja melebihi kemampuan finansialnya.

Namun, pembatasan ini dinilai dapat memperlebar jurang antara klub berpendapatan tinggi dan klub berpendapatan rendah, karena klub besar tetap memiliki ruang belanja jauh lebih besar dibandingkan tim papan bawah.

Untuk mengatasi potensi ketimpangan tersebut, Liga Inggris mengajukan aturan kedua, TBA, yang lebih kontroversial. Melalui mekanisme yang dijuluki ‘anchoring’, liga menetapkan batas belanja klub berdasarkan jumlah pendapatan klub peringkat terbawah Liga Inggris, dikalikan lima. Dengan mengacu pada pendapatan musim ini, yang diterima Sheffield United sebagai tim terbawah, batas belanja maksimal klub diperkirakan berada di angka GBP 550 juta..

Melalui TBA, klub terkaya sekalipun tidak akan bisa menghabiskan dana jauh di atas klub papan bawah, sehingga diharapkan menciptakan kompetisi yang lebih seimbang. Tanpa aturan ini, beberapa klub besar seperti Manchester City berpotensi memiliki kapasitas belanja hingga GBP 600 juta, tergantung pendapatan mereka.

Meski demikian, sejumlah klub menilai TBA sebagai ancaman terhadap model bisnis mereka. Menurut laporan The Athletic, bahkan tanpa aturan TBA, tidak ada klub yang pengeluarannya mendekati batas maksimal tersebut pada data terakhir. Namun, resistensi tetap muncul dari berbagai pihak, termasuk asosiasi pemain.

Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) menjadi pihak paling vokal dalam penolakan. Mereka menyatakan siap mengambil langkah hukum apabila Liga Inggris menyetujui aturan yang dianggap berpotensi membatasi gaji pemain. PFA menilai penerapan batasan maksimal akan menghambat mobilitas dan pendapatan pesepak bola, serta berpotensi melanggar prinsip pasar bebas Uni Eropa.

Isu pembatasan gaji menjadi salah satu fokus utama. Dengan gaji tertinggi di Liga Inggris saat ini, Erling Haaland mendapat GBP 525.000 per pekan, Mohamed Salah sebanyak GBP 400.000, hingga Raheem Sterling dengan GBP 325.000. Klub-klub besar memandang pembatasan ini dapat menurunkan daya saing Liga Inggris dalam perebutan pemain kelas dunia. Secara hukum, “salary cap” juga dinilai sulit diterapkan di Eropa karena berpotensi bertentangan dengan regulasi antitrust.

Menjelang pemungutan suara, posisi klub-klub Liga Inggris pun tidak bulat. Laporan The Times menyebutkan sedikitnya delapan klub mulai meragukan efektivitas aturan baru ini. Arsenal, yang selama ini menjadi salah satu pendukung utama konsep ‘anchoring’, dikabarkan melunak setelah perubahan struktur internal klub pada September lalu. Manchester United dan Manchester City menjadi dua klub yang paling kuat menyuarakan penolakan.

Meski dukungan terpecah, Liga Inggris tetap berada di ambang keputusan besar. Apabila SCR dan TBA disetujui, struktur finansial Liga Inggris akan mengalami perubahan paling drastis sejak implementasi Financial Fair Play. Jika ditolak, proses penyusunan regulasi baru kemungkinan harus kembali ke tahap awal.

Keputusan akhir berada di tangan 20 klub peserta, dengan minimal 14 suara diperlukan untuk pengesahan. Hasil pemungutan suara Jumat ini berpotensi menentukan arah kompetisi dalam jangka panjang, baik dari sisi persaingan maupun stabilitas finansial.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore