Penyerang Inter Milan Marcus Thuram. (Dok. Marcus Thuram)
JawaPos.com - Lilian Thuram selalu memenangi gelar di semua klub yang dibelanya semasa pemain. Dari AS Monaco, Parma Calcio, Juventus, hingga FC Barcelona. Semua gelar ada, kecuali Liga Champions. Kepingan yang kurang dari bek timnas Prancis peraih juara Piala Dunia, Euro, dan Piala Konfederasi periode 1994 sampai 2008 tersebut.
Trofi juara Liga Champions itulah yang kini bisa dicapai oleh putra Lilian sekaligus striker Inter Milan Marcus Thuram. ’’Aku berharap aku bisa memberi tahu ayahku bagaimana caranya untuk memenangi Liga Champions,’’ canda Marcus kepada Sky Sport Italia.
Lilian tercatat sudah merasakan 69 laga Liga Champions selama sembilan musim. Selama itu, hanya sekali Lilian bisa merasakan atmoser final. Yakni, pada edisi 2003. Sayangnya, Juve harus dipecundangi AC Milan via adu penalti 2-3. Lilian memang tampil selama 120 menit sebaai bek kanan.
Akan tetapi, Marcelo Lippi, allenatore Juve saat itu, tidak memilihnya sebagai lima algojo penalti pertama.
Lilian memang pernah sekali memenangi ajang Eropa bersama Parma, yaitu Piala UEFA 1998–1999. Saat itu, Marcus baru berusia 2 tahun. Jika Lilian pensiun pada usia 36 tahun dengan total 11 gelar, maka Marcus dengan usia 27 tahun baru merasakan dua gelar. Masing-masing scudetto Serie A dan Supercoppa Italiana musim lalu.
Hanya, mengangkat Si Kuping Lebar dini hari nanti bisa mengubah cerita perbandingan Marcus dan Lilian. Meski, Marcus menegaskan bahwa dia tidak terbebani nama besar ayahnya.’’Aku bangga sebagai putra Lilian.
Aku dan Khephren (adik kandungnya, gelandang Juventus, Red) tidak melihat sukses ayah sebagai penggangguku,’’ tutur Marcus.
Cerita bahwa tidak banyak putra legenda sepak bola yang bisa melampaui prestasi ayah mereka memang bertebaran. Contohnya Jordi Cruijff, putra Johan Cruijff maupun keempat putra Zinedine Zidane.
Jangankan melampaui prestasi ayah, tetap menekui karier sepak bola saja butuh perjuangan berat. Seperti dilansir dari L’Equipe, dari 100 ribu pemain usia muda di Prancis, hanya 250 yang menghabiskan setidaknya satu tahun di pusat pelatihan. Dari 250 anak itu, hanya 5 yang kemudian menjadi pemain profesional.
Itu pun terkadang mentok di Ligue 2 atau kasta kedua kompetisi di Prancis.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
